-
-

Monday, November 07, 2011

Penyandang Diabetes Lebih Rentan Tertular TBC


Ilustrasi (foto: Thinkstock)Jakarta, Komplikasi diabetes bukan satu-satunya risiko yang harus ditanggung ketika gula darah seseorang tidak terkontrol. Ketika seseorang sudah didiagnosis diabetes, maka orang tersebut juga lebih rentan mengalami infeksi Tuberculosis (TBC).

Peningkatan risiko infeksi TBC pada penyandang diabetes cukup signifikan, yakni mencapai 300 persen dibandingkan risiko pada orang sehat. Fakta ini mencadi ancaman tersendiri, mengingat jumlah penyandang diabetes dari waktu ke waktu cenderung meningkat pesat.

"Pertumbuhan kasus diabetes yang sangat pesat menjadi tantangan tersendiri dalam memberantas TBC," ungkap Dr Anthony Harries, pakar kesehatan dari International Union Against Tuberculosis and Lung Disease seperti dikutip dari Health24, Kamis (27/10/2011).

Sepintas kedua penyakit ini tidak saling berhubungan, sebab TBC adalah penyakit menular sedangkan diabetes adalah gangguan metabolisme yang tidak bisa ditularkan. Dr Harries mengakui belum tahu mekanismenya secara pasti, namun ada beberapa spekulasi yang bisa menjelaskannya.

Salah satunya menyebutkan bahwa diabetes secara langsung maupun tidak langsung dapat membuat sistem imun atau kekebalan tubuh menlemah. Akibatnya, berbagai infeksi mudah menyerang termasuk bakteri TBC yang memang ditularkan melalui droplet atau bercak dahak.

Selain meningkatkan risiko tertular TBC, diabetes juga menkjadi masalah tersendiri dalam upaya deteksi dini infeksi TBC. Pada penyandang diabetes, infeksi TBC sering salah diagnosis karena dikira pneumonia sehingga tidak tertangani dengan baik.

Umumnya, infeksi TBC di paru-paru terjadi mulai dari bagian atas. Sementara pada penyandang diabetes, infeksi TBC lebih sering terjadi di bagian bawah paru-paru sehingga sulit terdeteksi dan kadang-kadang hanya diberi obat biasa karena dikira pneumonia.

Hubungan antara TBC dengan diabetes ini diungkap Dr Harries dalam 42nd Union World Conference on Lung Health yang saat ini tengah berlangsung di Lille, Prancis.


up/ir)

email : sales[at]detik.com


detikhealth.com

Kerusakan Otak Akibat Ganja Sama dengan Skizofrenia


(Foto: thinkstock)Jakarta, Penggunaan ganja secara terus menerus tidak hanya membuat orang kecanduan tetapi juga merusak otak dan tubuh. Studi terbaru menemukan bahwa kerusakan otak akibat ganja sama dengan kerusakan pada orang dengan skizofrenia (gangguan jiwa).

Studi terbaru yang dilakukan peneliti Inggris menemukan bahwa marijuana alias ganja dapat menyebabkan gangguan konsentrasi dan memori yang serupa dengan yang terjadi pada orang dengan skizofrenia.

Dalam studi tersebut, peneliti mengukur aktivitas listrik dari ratusan neuron dalam otak tikus yang diberikan obat yang meniru efek dari ganja, yaitu bahan psikoaktif yang terdapat pada ganja.

Efek obat pada wilayah otak individu cukup halus namun benar-benar mengganggu koordinasi gelombang otak di hipokampus dan korteks prefrontal. Kedua struktur otak tersebut penting untuk memori dan pengambilan keputusan, serta memainkan peran kunci dalam skizofrenia.

"Penyalahgunaan ganja adalah umum di antara penderita skizofrenia dan studi terbaru menunjukkan bahwa bahan psikoaktif ganja dapat menyebabkan beberapa gejala skizofrenia pada partisipan sehat," kata Matt Jones dari University of Bristol, seperti dilansir Healthday, Kamis (27/10/2011).

Menurut Matt Jones, temuan ini penting untuk pemahaman tentang penyakit kejiwaan, yang mungkin timbul sebagai konsekuensi dari 'ketidakteraturan otak' dan bisa diobati dengan menyetel ulang aktivitas otak.

"Hasil ini merupakan langkah maju yang penting dalam pemahaman kita tentang bagaimana aktivitas irama di otak mendasari proses berpikir dalam kesehatan dan penyakit," kata penulis studi Mikhal Kucewicz.

Hasil studi ini telah dipublikasian pada 25 Oktober lalu dalam Journal of Neuroscience.



mer/ir)

email : sales[at]detik.com


detikhealth.com

5 weird things that happen to marathoners' bodies

In 1996, Uta Pippig became the first woman to win the Boston Marathon three times in a row. This historic accomplishment seems even more remarkable when you consider that she reportedly crossed the finish line with menstrual blood and diarrhea dripping down her legs â€" and live television cameras rolling.

As Pippig recalls, "I started having stomach cramps about 5 miles into the race, and shortly after I had diarrhea. I was self-conscious [about it] not only for me â€" but in a caring way for our sport."

She considered dropping out 7 or 8 miles in and even walked a little. Although uncomfortable, her focus shifted from winning the race to staying in it and running as well as she could in this situation.

Later in the marathon, she admits "I was frightened when I felt blood flowing down my legs." That red trickle was widely attributed to menstrual problems, which Pippig says was a misconception. After winning the race, she was diagnosed with "ischemic colitis," or inflammatory bowel disease.

While Pippig's bodily woes that day became famous, she admits that "any time this would happen today, even most likely in a leading position, I would stop running." She realizes that her body was talking to her. "It was a signal, and now it's clear I was ill."

As more than 47,000 runners toe the line for this Sunday's ING New York City Marathon â€" and push themselves through a challenging 26.2 mile test of their physical endurance and mental muscle â€" a few strange things could happen to their bodies along the way.

The most common injuries seen are blisters and muscle strains and pulls from overuse, says Lewis Maharam, MD, a sports medicine specialist who was the medical director for the New York City Marathon for 15 years. While he wouldn't call the following health woes "weird" or "strange," he prefers to think of many of them as specific to running and less common than in other sports.

Runner's trots. During or after a long run, your GI system may also get the runs. It can start as stomach cramps or gassiness, and progress to a desperate need to poo. It's likely caused by eating improperly, says Maharam, and not due to race-day excitement.
The fix? Avoid high-fat foods before a race, advises Maharam, and eat the same way as you trained. "Go to the bathroom twice at the start to clean yourself out," he suggests.

Hyponatremia. Some marathoners worry about drinking too little water during a race, but drinking too much of it during a time when you're sweating a lot may cause a dangerously low concentration of sodium in the blood. Ironically, hyponatremia has some similar symptoms to dehydration, such as dizziness and nausea. Slower runners and women because of their smaller body size are at greater risk.
The fix? Simple: Drink only when thirsty, suggests Maharam, the author of the "Running Doc's Guide to Healthy Running."

Chafing and bloody nipples. Sweat, movement and clothing seams can rub your skin raw in some odd places. It can irritate the armpits, inner thighs, ankles, and in women, along the lines of a sports bra. Men's nipples may chafe and bleed.
The fix? Lubricate these tender areas with vaseline or Bodyglide. Men can use NipGuards, duct tape, or waterproof band-aids to protect their nipples. "Avoid wearing new clothing on race day," Maharam recommends.

Blackened toenails. Snug running shoes can make your toenail hit the end or top of the shoe, causing blood to pool underneath the nail. Sometimes painful, the nail will eventually grow out or fall off.
The fix?Properly fitting shoes, suggests Maharam. "You need a thumbnail distance between the longest toe and the end of the shoe."

Hitting the wall. When your body runs out of carbs, marathoners run out of gas. "Bonking" happens when your body turns to its fat stores for energy, a less efficient fuel.  Your legs feel like lead, you're completely wiped out, and you're forced to slow down.
The fix?"There's no reason to hit the wall," says Maharam, if you include plenty of carbs in your diet while training.

Despite these quirky health hazards, Maharam says that running a marathon is good for body and mind. And that's one reason runners keep striding toward the finish line â€" exhausted but exhilarated about completing the race.

Pippig, the 1993 New York City Marathon women's champion, offers participants this piece of advice: "Whenever you feel any discomfort besides the usual fatigue connected with marathon running, please stop running and take care of yourself. Keep the race in perspective; your health is most important."

Runners: Tell us your tried-and-true tips to avoid these health complaints over on our Facebook page.

Discussion comments

Membedakan Pilek Dengan Flu


(Foto: thinkstock)Jakarta, Orang awam kebanyakan sulit membedakan antara flu dan pilek (cold), padahal keduanya memiliki konsekuensi yang berbeda. Asal tahu saja, flu lebih berbahaya dari pada pilek. Lalu bagaimana membedakannya?

Belajar mengenali pilek atau flu sangat penting, karena flu dapat menyebabkan komplikasi serius seperti radang paru-paru (pneumonia) hingga kematian. Segera mengobati flu dalam waktu 48 jam setelah munculnya gejala adalah langkah yang terbaik.

Cara mengenali pilek dan flu seperti dilansir dari WebMD, Kamis (27/10/2011) adalah:

1. Flu Datang dengan Cepat dan Tiba-tiba
Gejala flu seperti sakit tenggorokan, demam, sakit kepala, nyeri otot, hidung mampet dan batuk cenderung datang tiba-tiba dan lebih intens dari gejala pilek. Pilek biasanya hanya menyebabkan hidung meler atau tersumbat.

Gejala flu biasanya membaik setelah dua sampai lima hari, tapi kemudian merasa lemah selama seminggu atau lebih. Pilek datang secara bertahap dan berakhir setelah sekitar satu minggu.

2. Demam Biasanya Pertanda Flu
Beberapa orang mungkin sedikit mengalami demam ketika pilek, namun kebanyakan tidak. Sedangkan pada flu, penderitanya akan mengalami demam 37-38 derajat Celcius atau lebih tinggi. Demam flu pada anak-anak cenderung lebih tinggi suhunya dan anak-anak lebih mungkin terserang demam karena flu biasa.

3. Kelelahan Karena Flu Bisa Berlangsung Berminggu-minggu
Ketika sudah terserang flu, penderitanya akan mulai merasa sangat lelah dan pegal di seluruh tubuh. Kelelahan dan kelemahan tersebut dapat berlangsung sampai 3 minggu atau bahkan lebih lama pada orang tua dan penderita penyakit kronis atau gangguan sistem kekebalan tubuh.

Sedangkan pada pilek, gejalanya hanya berlangsung beberapa hari.

4. Pilek dan Flu Dapat Menyebabkan Sakit Kepala
Sakit kepala bukan merupakan indikator flu yang dapat diandalkan, karena pilek juga dapat menyebabkan sakit kepala. Tapi sakit kepala yang disebabkan oleh pilek cenderung lebih ringan daripada yang disebabkan oleh flu.

5. Batuk Pertanda Pilek Maupun Flu
Karena pilek dan flu adalah penyakit pernapasan yang mempengaruhi saluran udara, kedua-duanya dapat menyebabkan batuk.

6. Pneumonia atau radang paru-paru adalah infeksi paru-paru yang dapat menjadi komplikasi dari flu.
Hubungi dokter jika mengalami batuk terus-menerus, demam lebih tinggi dari 38 derajat Celcius, meriang, kesulitan bernapas, sesak napas, atau nyeri dada akibat batuk, atau batuk berdahak kuning kehijauan atau berdarah.

7. Sakit telinga Bisa Disebabkan Karena Pilek atau Flu
Pilek dan flu dapat menyebabkan sakit telinga karena mengiritasi saluran eustachius yang menghubungkan tenggorokan dengan telinga tengah. Iritasi dapat menyebabkan nyeri atau rasa terbakar. Sakit telinga karena pilek dan flu biasanya hilang dengan sendirinya.

Jika rasa sakit berlangsung lebih lama dari penyakitnya atau tiba-tiba merasakan sakit yang sangat, temuilah dokter. Mungkin telah terjadi infeksi telinga dan perlu perawatan.

8. Pilek Dimulai Dengan Sakit Tenggorokan
Kebanyakan pilek dimulai dengan sakit tenggorokan selama satu sampai dua hari. Hidung meler dan tersumbat juga umum dijumpai. Sakit tenggorokan juga dapat merupakan gejala flu. Tapi pada flu, sakit tenggorokan disertai dengan kelelahan dan gejala lainnya yang sering terjadi secara bersamaan.

9. Hidung Tersumbat Rata-Rata Disebabkan Pilek
Kecuali jika disertai demam yang sangat sakit dan menguras energi, hidung tersumbat umumnya disebabkan oleh pilek, meskipun banyak orang dengan flu juga melaporkan hidung tersumbat dan bersin.

10. Baik pilek maupun flu dapat menyebabkan infeksi sinus.
Gejalanya ditandai dengan rasa sakit yang dalam dan konstan di tulang pipi, dahi, atau hidung. Rasa sakit biasanya makin memburuk jika menggerakkan kepala tiba-tiba.

11. Tes Flu Dapat Mengenali Flu dengan Cepat
Cara tercepat dan paling efektif untuk mengetahui apakah terserang flu atau pilek adalah dengan menjalani tes di kantor dokter. Dengan memeriksa hidung atau tenggorokan, dokter dapat mengetahui apakah itu pilek atu flu hanya dalam waktu kurang dari 30 menit.

Jika ternyata positif mengidap flu dan gejalanya telah dimulai sejak 48 jam terakhir, dokter akan menyarankan pengobatan antivirus untuk mempercepat penyembuhan.

12. Segera Mulai Pengobatan Anti Flu
Flu bisa menjadi berbahaya, tapi obat-obatan antivirus dapat membuat pasien merasa baikan dan mempersingkat waktu sakit satu atau dua hari jika dimulai dengan segera.

13. Obat Pilek Bisa Kurangi Gejala
Obat-obatan yang biasa dibeli di apotek seperti dekongestan, obat batuk, dan antihistamin dapat meringankan gejala hidung mampet, batuk, dan hidung meler. Acetaminophen, ibuprofen, atau naproxen dapat mengobati nyeri atau sakit kepala.

14. Bacalah bahan aktif dan peringatan pada semua label produk.
Kebanyakan obat batuk dan flu mengandung bahan yang sama, sehingga bisa menyebabkan overdosis secara tidak sengaja.

Pencegahan Pilek dan Flu: Cuci Tangan
Mencuci tangan dengan benar dapat membantu mencegah penyebaran flu. Gosoklah kedua tangan dengan sabun dan air hangat selama 20 detik. Jangan lupa gosok juga sela-sela jari dan sekitar kuku. Bilas dan keringkan secara menyeluruh. Pembersih tangan berbahan dasar alkohol juga terbukti ampuh.

Seringlah mencuci tangan selama musim pilek dan flu, terutama setelah batuk, bersin, atau meniup hidung. Jika tidak dapat menemukan tisu, bersin atau batuklah ke siku, jangan ke tangan.

Pencegahan Flu: Vaksin
Vaksin flu terbuat dari virus flu dalam versi yang tidak berbahaya untuk membantu tubuh mengenali dan melawan flu sebenarnya. Vaksin ini sangat penting untuk anak-anak berusia 6 bulan ke atas, ibu hamil, orang dewasa berusia 50 tahun ke atas, dan pasien penyakit kronis atau penyakit sistem kekebalan tubuh. Anak sehat yang berusia 2 tahun ke atas dan orang dewasa sehat berusia di bawah 50 tahun yang tidak hamil dapat memilih vaksin semprot hidung.

Apakah Flu Babi (H1N1) Masih Mengancam?
Flu babi pernah mengguncang dunia pada tahun 2009, namun wabah ini resmi berakhir pada tahun 2010. Vaksin flu yang ada saat ini mampu melindungi dari flu babi dan flu musiman.

Flu babi dan gejala-gejala flu musiman biasanya berupa batuk, sakit tenggorokan, demam (meskipun tidak semua penderita flu mengalami demam) dan nyeri badan. Banyak pasien flu babi juga mengalami gangguan perut seperti muntah dan diare.


ir/ir)

email : sales[at]detik.com


detikhealth.com

Tes Darah untuk Tahu Kondisi Jantung dan Paru-paru Perokok


(Foto: thinkstock)Jakarta, Perokok diketahui lebih rentan mengalami berbagai macam penyakit kronis seperti jantung. Kini peneliti tengah mengembangkan tes darah yang bisa mengetahui kondisi jantung dan paru-paru perokok.

Para peneliti dari UT Southwestern Medical Center telah menemukan tes darah sederhana yang nantinya bisa digunakan untuk mengukur toksisitas paru-paru dan risiko penyakit jantung seorang perokok.

"Kadar protein di paru-paru yang ditemukan dalam darah perokok bisa menunjukkan risiko penumpukan plak di pembuluh darah yang berbahaya," ujar Dr Anand Rohatgi, profesor penyakit dalam dari UT Southwestern, seperti dikutip dari ScienceDaily, Kamis (27/10/2011).

Dalam studi ini peneliti mengukur jumlah pulmonary surfactant B (SP-B) yaitu protein yang ditemukan dalam sel paru-paru yang rusak. Peneliti menemukan perokok dengan tingkat SP-B tinggi ternyata memiliki penumpukan plak yang lebih berbahaya di dalam aorta (arteri terbesar dengan cabang yang mengarah ke panggul, perut dan kaki).

Penelitian ini dilakukan karena sebagian besar perokok nantinya akan kehilangan produktivitas dan membutuhkan biaya pengobatan besar, sehingga diharapkan tes darah ini bisa menjadi cara untuk deteksi dini.

"Merokok adalah salah satu kontributor terbesar bagi perkembangan penyakit jantung, dan tes ini bisa mengukur efek dari rokok yang berkontribusi pada penyakit jantung atherosclerotic," ujar Dr Rohatgi.

Peningkatan risiko serangan jantung, stroke dan kematian akibat penyakit jantung pada perokok bervariasi antar individu dan sampai saat ini belum ada tes darah yang bisa mengukur varisi tersebut.

Kini peneliti tengah melakukan evaluasi lebih lanjut untuk menyelidiki apakah SP-B menyebabkan artherosclerosis atau hanya sebagai penanda penyakit itu saja, serta untuk mengetahui apakah penurunan tingkat SP-B bisa memperbaiki penyembuhan penyakit jantung.

Hasil studi ini telah dipublikasikan dalam Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology oleh American Heart Association.


ver/ir)

email : sales[at]detik.com


detikhealth.com

Sunday, November 06, 2011

Paparan BPA Tingkatkan Risiko Diabetes


(Foto: thinkstock)Jakarta, Paparan senyawa bisphenol A (BPA) diketahui bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Kini bertambah lagi dampak dari paparan BPA yaitu meningkatkan risiko terkena diabetes.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa orang dengan tingkat senyawa BPA yang lebih tinggi di urinenya memiliki risiko diabetes yang lebih tinggi. BPA sendiri adalah endocrine disruptor yang dapat mempengaruhi aktivitas hormon normal di dalam tubuh.

Penelitian ini menggunakan data dari studi kesehatan federal antara tahun 2003-2008. Peneliti melibatkan hampir 4.000 orang dewasa dan diketahui partisipan yang memiliki tingkat BPA tinggi di urine cenderung memiliki diabetes.

Para peneliti juga menganalisis sejumlah faktor lain dalam risiko diabetes seperti berat badan, usia dan juga ras. Diketahui orang-orang dengan tingkat BPA tinggi memiliki risiko 68 persen lebih besar terkena diabetes dibanding dengan yang tingkat BPAnya rendah.

Mekanisme dari pengaruh BPA terhadap risiko diabetes memang belum jelas. Tapi hasil penelitian laboratorium menunjukkan bahwa BPA bisa bertindak seperti hormon di dalam tubuh. Selain itu BPA diperkirakan bisa mempromosikan terjadinya peradangan yang terkait dengan diabetes dan juga berbagai penyakit kronis lainnya.

"Diperlukan studi lebih lanjut untuk mengukur kadar BPA yang bisa mengembangkan diabetes dan berapa lama waktu yang dibutuhkannya," ujar Dr Anoop Shankar dari West Virginia University School of Medicine, seperti dikutip dari Foxnews, Kamis (27/10/2011).

Para ahli menyarankan masyarakat untuk hindari wadah makanan yang terbuat dari plastik polikarbonjat (biasanya memiliki recycling code 7), terutama untuk wadah makanan yang mengharuskan pemanasan berulang. Hal ini karena panas tinggi bisa mentransfer sejumalh BPA ke dalma makanan.

BPA telah digunakan selama puluhan tahun untuk membuat wadah plastik yang keras serta lapisan untuk makanan logam dan juga kaleng minuman. Untuk itu pilihlah wadah makanan dan minuman yang menggunakan bahan food grade.


ver/ir)

email : sales[at]detik.com


detikhealth.com

Untung Rugi Minum Es Teh Bagi Kesehatan


(Foto: thinkstock)Jakarta, Es teh sudah menjadi minuman favorit banyak orang, tak hanya di Indonesia tetapi juga banyak orang di berbagai negara. Ada beberapa keuntungan dan kerugian es teh bagi kesehatan. Apa saja?

Berbagai resep es teh berevolusi beberapa dekade untuk membuat minuman sehat. Meskipun tidak sesehat teh panas yang baru diseduh, es teh merupakan taruhan yang lebih aman dibandingkan dengan minuman soda. Es teh memberi hampir semua manfaat teh normal meski dalam jumlah yang lebih sedikit.

Berikut beberapa keuntungan dan kerugian minum es teh bagi kesehatan, seperti dilansir Buzzle, Kamis (27/10/2011), yaitu:

Keuntungan es teh
Es teh tidak manis lebih bermanfaat daripada es teh manis. Es teh hijau akan memberikan semua manfaat dari teh hijau yang normal, selain menjadi minuman dingin menyegarkan. Memilih es teh lebih aman ketimbang mengonsumsi minuman ringan bersoda. Es teh mengandung beberapa antioksidan yang baik untuk tubuh kita. Antioksidan membantu mengurangi risiko stroke dan serangan jantung dan juga mengurangi kemungkinan kondisi peradangan. Es teh seperti halnya teh panas, membantu dalam memerangi bau mulut dan plak. Es teh telah terbukti membantu orang dengan tekanan darah tinggi, karena bertindak sebagai antibiotik. Jika Anda memilih es teh hijau atau eteh oolong, maka ada lebih banyak manfaat teh dibandingkan dengan es teh hitam. Es teh seperti ini lebih baik untuk program penurunan berat badan dan untuk mencegah gigi berlubang, dibandingkan es teh biasa.
Kerugian minum es teh
Es teh banyak mengandung oksalat, yang meningkatkan risiko batu ginjal ketika menumpuk di dalam tubuh. Jadi, terlalu banyak asupan es teh dapat meningkatkan risiko batu ginjal, jika tubuh tidak mampu memecah oksalat berlebih. Es teh dalam kemasan mengandung nutrisi lebih rendah daripada es teh yang baru diseduh. Kandungan bahan aktif es teh botol juga lebih sedikit ketimbang es teh segar. Es teh dalam kemasan mengandung kalori lebih banyak dari teh panas yang baru diseduh. Teh panas mengandung hampir nol kalori, sedangkan es teh kemasan mengandung antara 82-88 kalori. Meskipun es teh mengandung sebagian besar manfaat yang akan Anda dapatkan dari teh panas normal, persentase dari bahan dan manfaat tersebut secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan teh panas.
Jadi, tidak ada perbedaan yang sangat besar antara kedua es teh dan teh panas. Anda dapat menikmati es teh di musim panas dan teh panas di musim hari dingin. Selama Anda menjaga asupan es teh dalam batasan normal dan terkendali, tidak ada efek berbahaya dari konsumsi es teh. Cobalah untuk memilih es teh tawar sebanyak mungkin.

Namun demikian, ada beberapa tips untuk membuat es teh yang lebih sehat, yaitu:
Cobalah pilih teh hijau, oolong dan teh putih ketika akan membuat es teh, bukan teh hitam normal. Es teh hijau dan es teh putih jauh lebih sehat daripada es teh hitam. Rendam teh celup dalam air panas selama 4-5 menit untuk mendapatkan manfaat maksimum dari teh. Dengan cara demikian teh akan melepaskan semua polifenol yang berguna dan baik untuk kesehatan. Es teh akan mengandung nutrisi lebih rendah daripada teh panas normal, sehingga sebaiknya minumlah es teh tawar atau tambahkan pemanis rendah kalori.
mer/ir)

email : sales[at]detik.com


detikhealth.com

Glaukoma Dapat Dihindari dengan Rajin Berolahraga


(Foto: thinkstock)Jakarta, Glaukoma adalah kondisi hilangnya penglihatan secara perlahan karena tekanan pada bola mata yang meningkat. Dengan melakukan latihan fisik akan berdampak jangka panjang pada menurunnya faktor risiko terserang glaukoma.

Peneliti meneliti hubungan antara aktivitas fisik dan risiko terserang glaukoma pada 5.650 orang pria dan wanita berusia 48 hingga 90 tahun yang tinggal di Inggris. Menggunakan kuesioner kesehatan dan gaya hidup, peserta dinilai kegiatan fisiknya dan digabungkan dengan kondisi bekerja dan bersantai.

Dari tahun 2006 hingga 2010, peserta studi diperiksa tekanan matanya, tekanan darah sistolik, dan diukur tekanan darah diastolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latihan fisik dalam taraf sedang yang dilakukan sekitar 15 tahun sebelumnya berkaitan dengan penurunan risiko glaukoma sebesar 25%.

"Tampaknya bahwa resiko glaukoma sebagian besar ditentukan oleh kebugaran jantung dan tekanan darah. Kami tidak dapat berkomentar mengenai penyebabnya, tapi pasti ada hubungan antara gaya hidup dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko glaukoma," kata penulis Paul J. Foster, MD PhD, FRCS (Ed), dari University College London Institute of Ophthalmology.

Menurut peneliti, meskipun telah ada sejumlah besar kajian yang meneliti efek aktivitas fisik terhadap tekanan pada mata dan tekanan darah, penelitian ini adalah yang pertama kalinya mengungkap hubungan antara aktivitas fisik dan resiko glaukoma.

"Sebelumnya, faktor risiko glaukoma yang dimodifikasi hanyalah tekanan mata dan dikaitkan dengan perawatan obat-obatan, laser atau operasi. Kami percaya bahwa penelitian kami dapat mengarahkan cara baru mengurangi risiko glaukoma, yaitu melalui menjaga gaya hidup tetap aktif. Cara ini dapat mengubah risiko glaukoma dan banyak gangguan kesehatan serius lainnya," pungkas Foster seperti dikutip dari Eurekalert.org, Rabu (26/10/2011).


ir/ir)

email : sales[at]detik.com


detikhealth.com

Saturday, November 05, 2011

Stroberi Mampu Lindungi Lambung dari Alkohol


(Foto: thinkstock)Jakarta, Peneliti di Eropa telah membuktikan bahwa makan stroberi mengurangi bahaya alkohol yang merusak lapisan dinding lambung. Penelitian ini dapat membantu pengobatan maag.

Sebuah tim peneliti dari Italia, Serbia dan Spanyol mengkonfirmasi efek perlindungan dari stroberi pada perut mamalia yang rusak oleh alkohol. Para ilmuwan memberi etanol (etil alkohol) kepada tikus laboratorium. Ternyata, selaput lendir lambung yang sebelumnya diberi makanan ekstrak stroberi hanya mengalami sedikit kerusakan.

"Efek positif stroberi tidak hanya terkait dengan kapasitas antioksidan dan kandungan senyawa fenolik yang tinggi, tetapi juga fakta bahwa stroberi mengaktifkan pertahanan antioksidan dan enzim tubuh," kata Sara Tulipani, peneliti dari Universitas Barcelona (UB)seperti dilansir medicalxpress.com, Rabu (26/10/2011).

Penelitian menyimpulkan bahwa makan banyak stroberi berkhasiat mencegah penyakit lambung yang berkaitan dengan radikal bebas atau oksigen reaktif. Buah ini bisa memperlambat pembentukan tukak lambung atau maag pada manusia.

Gastritis atau peradangan pada selaput lendir lambung dapat disebabkan karena konsumsi alkohol, infeksi virus, obat anti radang seperti aspirin atau obat yang digunakan untuk mengobati melawan bakteri Helicobacter pylori.

Maurizio Battino, koordinator kelompok riset di Marche Polytechnic University (UNIVPM, Italia) menunjukkan bahwa dalam kasus ini, konsumsi stroberi selama atau setelah terserang gastritis dapat mengurangi kerusakan selaput lendir lambung.

Tim menemukan bahwa radang dinding lambung berkurang dalam perut tikus yang makan ekstrak stroberi sebanyak 40 mg/hari per kilo berat badan selama 10 hari sebelum diberi alkohol.

"Penelitian ini jangan dipahami sebagai cara untuk mengurangi efek mabuk, melainkan sebagai cara untuk menemukan molekul dalam membran perut yang melindungi efek merusak dari zat yang berbeda," ujar Battino menekankan.

Pengobatan untuk radang lambung dan penyakit lainnya saat ini membutuhkan obat pelindung baru dengan sifat antioksidan. Senyawa-senyawa yang ditemukan dalam stroberi bisa menjadi jawabannya.


ir/ir)

email : sales[at]detik.com


detikhealth.com

Pria Rajin Minum Air Kurangi Risiko Kanker Kandung Kemih


(Foto: thinkstock)Jakarta, Minum air diketahui memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Kini bertambah lagi manfaatnya terutama bagi kaum laki-laki yaitu bisa membantu mengurangi risiko terkena kanker kandung kemih (bladder cancer).

Survei yang dilakukan terhadap 48.000 laki-laki ini menemukan partisipan yang minum lebih dari 2,5 liter cairan setiap hari memiliki risiko 24 persen lebih rendah terkena kanker kandung kemih, seperti dikutip dari Telegraph, Rabu (26/10/2011).

Studi yang dilakukan oleh peneliti Brown University ini menganalisis laki-laki berusia 40 tahun selama periode 22 tahun serta menjawab kuesioner dari Health Professionals Follow-Up Study.

Dalam kuesioner ini peserta ditanya mengenai berapa banyak cairan yang secara teratur dikonsumsi selama interval waktu 4 tahun. Dan hasilnya menunjukkan bahwa manfaat dari konsumsi cairan yang tinggi bisa membantu mengurangi risiko kanker kandung kemih.

Para peneliti berkesimpulan cairan yang dikonsumsi bisa membantu menghapus dan mengeluarkan senyawa yang berpotensi sebagai karsinogen (penyebab kanker) sebelum ia berkesempatan menimbulkan kerusakan jaringan yang dapat memicu terjadinya kanker kandung kemih.

Penyakit ini diketahui lebih umum menyerang kaum laki-laki berusia 50-80 tahun dibandingkan dengan perempuan. Sebagian besar kanker kandung kemih berasal dari sel transisional dan sisanya merupakan karsinoma sel skuamosa. Sel transisional dan sel skuamosa merupakan sel yang melapisi dinding dari kandung kemih.

Gejala dari kanker kandung kemih biasanya berupa hematuria (adanya darah dalam urine), rasa terbakar atau timbul nyeri ketika buang air besar, adanya dorongan untuk berkemih dan sering buang air kecil.

Hasil studi ini nantinya akan dipresentasikan dalam konferensi 10th AACR International Conference on Frontiers in Cancer Prevention Research di AS.


ver/ir)

email : sales[at]detik.com


detikhealth.com

Pengobatan HIV Lebih Dini Perpanjang Hidup Pasien HIV dengan TBC


(Foto: thinkstock)Jakarta, Pasien HIV (Human Immunodeficiency Virus) bisa dibilang bergelut dengan waktu, mengingat belum adanya obat yang dapat mengatasi penyakit tersebut. Ditambah lagi, banyak pasien HIV yang kemudian mengidap tubercolusis atau TB.

Namun ada kabar yang cukup menggembirakan, pengobatan Antiretroviral (ARV) dua minggu setelah pemberian obat anti-TB dapat meningkatkan kelangsungan hidup pasien sebesar 33 persen.

ARV adalah terapi obat anti retroviral yang mengkombinasikan beberapa jenis obat-obatan dan telah direkomendasikan untuk menangani pasien AIDS secara luas. Selama ini, masih ada perdebatan dalam komunitas medis mengenai pengobatan ARV dan anti-TB untuk pasien yang terinfeksi HIV dan TB.

Beberapa pihak menganjurkan agar menunda pengobatan ARV lebih dari 2 bulan setelah memulai pengobatan anti-TB. Alasannya adalah kemungkinan keracunan, pertimbangan kesulitan pasien menjalani dua pengobatan sekaligus yang mengharuskan pasien meminum tujuh butir pil setiap hari, serta risiko peradangan parah akibat penolakan sistem kekebalan tubuh akibat pengaruh ARV.

Namun penelitian ini mendukung pemberian ARV lebih awal untuk memulihkan fungsi kekebalan akibat efek pengobatan anti-TB. Untuk menekan sistem kekebalan tubuh pasien HIV yang terinfeksi TB, pemberian ARTVharus dimulai paling lambat dua minggu setelah terapi TB dimulai.

Tim peneliti juga sangat menyarankan agar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) harus lebih agresif merekomendasikan pengobatan untuk pasien.

Dalam pedomannya yang paling terakhir, WHO merekomendasikan bahwa pasien yang terinfeksi HIV dan TB dapat memulai ARV dalam waktu delapan minggu setelah memulai pengobatan anti-TB, namun bukti penelitian yang mendukung rekomendasi tersebut belum ada saat itu.

"Tuberkulosis menyerang lebih dari setengah juta orang penderita HIV di seluruh dunia setiap tahunnya. Ini adalah suatu tragedi, karena TB dapat disembuhkan jika diobati dengan benar, bahkan pada pasien HIV tingkat lanjut, terutama jika pasien juga menerima terapi anti-retroviral," kata Anne Goldfeld, MD, dari tim gabungan Immune Disease Institute (IDI), Program Pengobatan Selular dan Molekuler di Children's Hospital Boston, dan CAMELIA (Cambodian Early versus Late Introduction of Antiretrovirals).

Anne Goldfeld adalah seorang professor kedokteran dari Harvard Medical School sekaligus profesor imunologi dan penyakit menular dari Harvard School of Public Health, dan ikut mendirikan Komite Kesehatan Kamboja.

Peneliti telah merekrut 661 para pasien HIV yang terinfeksi TB dan memberikan pengobatan standar untuk TB, dan diikuti oleh pemberian ART dua minggu atau dua bulan kemudian.

Pada akhir penelitian, tingkat kelangsungan hidup pada kelompok yang mendapat ARV lebih dini 33 persen lebih besar dibandingkan pada kelompok yang mendapat ARV lebih lambat. Penelitian ini sendiri memakan waktu empat setengah tahun.

Dari semua peserta penelitian, hanya 12 orang yang tidak meneruskan tindak lanjut pengobatan, dan semua peserta hanya melewatkan kurang dari satu persen dari 8.955 kunjungan yang telah dijadwalkan.

"Ketika kami memulai penelitian, tidak ada infrastruktur yang mendukung untuk melakukan uji coba di Kamboja dan ARV baru saja diperkenalkan ke negara itu. Selama ini, HIV dan TB tidak diobati dengan cara terpadu," kata Goldfeld seperti dikutip dari Eurekalert.org, Selasa (25/10/2011).

"Selama penelitian, kami membantu mendirikan sebuah pusat penanganan HIV dan perawatan TB dan pusat pengobatan untuk anak dengan HIV. Kami juga menciptakan kerangka kerja nasional di Kamboja untuk mengobati pasien yang resistan terhadap obat TBC yang sekarang sedang direplikasi di Ethiopia," pungkasnya.


ir/ir)

email : sales[at]detik.com


detikhealth.com

Umur Panjang Ternyata Bisa Diwariskan


(Foto: thinkstock)Jakarta, Hampir semua orang pasti ingin bisa hidup lebih lama. Umur panjang dipengaruhi oleh pola hidup sehat dan lingkungan yang mendukung. Namun bisakah umur panjang diturunkan ke generasi berikutnya yang memiliki kondisi yang jauh berbeda dengan saat ini? Ternyata ilmuwan menunjukkan hal itu bukanlah hal yang mustahil.

Para peneliti menemukan bahwa memblokir atau memodifikasi salah satu dari tiga protein kunci dalam DNA dapat meningkatkan lama hidup hewan dan keturunannya, meskipun modifikasi terhadap sel asli tidak lagi ada dalam DNA keturunannya. Temuan pertama di dunia ini menunjukkan bahwa umur panjang bisa diwariskan dengan cara non-genetik selama beberapa generasi.

Investigasi lebih lanjut memang masih banyak diperlukan, namun penelitian ini dapat menjadi petunjuk mengenai kemungkinan bahwa modifikasi DNA yang terjadi pada kakek-nenek buyut kita dapat mempengaruhi lama kehidupan kita sendiri.

"Penelitian ini berkaitan dengan gagasan pewarisan sifat-sifat yang hampir sesat karena telah lama dipasung oleh hukum Mendel. Tapi kami menunjukkan melalui penelitian ini bahwa pewarisan umur panjang terjadi pada cacing gelang melalui pengubahan protein tertentu," kata profesor genetika, Anne Brunet, PhD., penulis utama penelitian.

Anne Brunet yang dibantu oleh Eric Greer di Universitas Stanford sebelumnya menemukan spesimen cacing gelang yang hidup 20 sampai 30 persen lebih lama dari biasanya. Cacing berumur panjang ini mengalami mutasi yang mengganggu kemampuan protein DNA yang membantu mengontrol aktivitas gen.

Pertanyaannya adalah apakah pengubahan protein DNA tersebut bisa diwariskan efeknya? Greer kemudian merancang sebuah percobaan untuk mengetahui apakah cacing yang tidak memiliki mutasi pada gen-nya tetap bisa mewarisi hidup panjang.

"Saya tidak benar-benar berharap untuk dapat diwariskan. Karena itu, saya berpikir bahwa mekanisme perpanjangan usia tersebut akan hilang antar generasi," kata Greer seeprti dikutip dari ScienceNews.com, Selasa (25/10/2011).

Tapi ternyata hidup lebih lama bisa diwariskan setidaknya selama tiga generasi meskipun keturunan cacing tidak lagi mengalami perubahan DNA yang menyebabkan perpanjangan masa hidup.

Mekanisme memperpanjang lama hidup berakhir tiba-tiba pada antara generasi ketiga dan keempat. Alasannya tidak diketahui, tetapi Brunet berspekulasi bahwa setiap generasi secara bertahap membangun kembali beberapa protein sehingga mekanisme perpanjangan hidupnya terputus.

Tidak ada yang tahu apakah temuan pada cacaing gelang itu akan berlaku juga pada hewan lain atau manusia, tetapi proses penuaan yang banyak ditemukan pada cacing juga ditemukan pada organisme lain, termasuk manusia.

"Mutasi dalam genom yang memungkinkan orang dapat hidup lebih lama, tapi pasti ada faktor epigenetik yang juga terlibat," kata Brian Kennedy, CEO Buck Institute for Research on Aging in Navato, California.


ir/ir)

email : sales[at]detik.com


detikhealth.com

3 Manfaat Kesehatan Jika Menjadi Musisi


(Foto: thinkstock)Jakarta, Menjadi musisi memang bisa memberikan manfaat bagi kesehatan seperti selalu terlihat lebih muda. Kini ada 3 manfaat kesehatan lain yang bisa didapatkan oleh seorang musisi.

Baru-baru ini peneliti dari Kanada melaporkan dalam Psychology and Aging bahwa musisi memiliki sedikit masalah pendengaran dibanding dengan orang yang non-musisi melalui tes serangkaian tugas pendengaran. Musisi memiliki keuntungan bisa dengan jelas mendeteksi kesenjangan diam diantara suara yang terus menerus terdengar serta mampu membedakan frekuensi suara.

"Otak secara otomatis akan merespons suara yang terdengar dalam kehidupan kita," ujar Alex Doman, pendiri dan CEO dari Advanced Brain Technologies di Ogden, Utah, seperti dikutip dari Menshealth.com, Selasa (25/10/2011).

Selain itu ada pula 3 manfaat kesehatan yang bisa didapatkan dengan menjadi seorang musisi seperti:

1. Cara yang ampuh untuk mengatasi stres
Studi yang dilakukan oleh Medical Science Monitor menemukan memainkan alat musik bisa membantu membalikkan efek stres pada otak. Dalam studi ini para peneliti sengaja membuat peserta frustasi dengan sebuah teka teki silang selama 1 jam untuk meningkatkan kadar stres.

Diketahui peserta yang melakukan rekreasi dengan bermain keyboard setelah melakukan tes menunjukkan tingkat stres terendah diantara kelompok lain yang melakukan rekreasi selain bermusik.

2. Membantu menjaga jantung tetap sehat
Studi yang dilaporkan dalam jurnal Heart tahun 1998 menemukan memainkan alat musik bisa bermanfaat bagi jantung. Dalam studi ini peserta mendengarkan beberapa lagu dalam berbagai jenis musik, lalu peneliti mengukur tekanan darah dan pola pernapasan.

Hasil studi menunjukkan kelompok musisi memiliki performa lebih baik dalam mengontrol pernapasan serta memiliki kemampuan melakukan sinkronisasi bernapas dibandingkan dengan kelompok non-musisi (tidak memiliki pengalaman musik).

3. Meningkatkan kekuatan otak
Studi dari Stanford University menemukan pelatihan bermusik bisa memperbaiki cara otak memproses kata yang akan diucapkan. Para peneliti mengukur aktivitas otak dari 40 orang dewasa dan menemukan musisi lebih terfokus serta memiliki aktivitas otak yang efisien.

Para peneliti mengungkapkan hal ini karena pelatihan musik bisa meningkatkan kemampuan otak untuk menguraikan perubahan suara yang cepat, kondisi ini merupakan kunci dalam pemahaman bahasa.



ver/ir)

email : sales[at]detik.com


detikhealth.com

Insomnia Tingkatkan Risiko Serangan Jantung


(Foto: thinkstock)Jakarta, Orang yang mengalami kesulitan tidur memiliki risiko serangan jantung yang lebih tinggi. Hubungan antara insomnia dan peningkatan risiko serangan jantung memang masih belum jelas, tapi gangguan tidur berpengaruh terhadap tekanan darah dan peradangan yang bisa menjadi faktor risiko serangan jantung.

"Insomnia cukup umum dan mudah diobati. Penting bagi orang-orang untuk menyadari hubungan antara insomnia dan serangan jantung. Sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter jika memiliki gangguan tidur," kata Dr Lars Erik Laugsand, internis dari Norwegian University of Science and Technology di Trondheim.

Laugsand bersama timnya mengumpulkan data pada hampir 53.000 orang pria dan wanita yang berpartisipasi dalam survei kesehatan nasional di tahun 1995 hingga 1997 dan diminta menjawab pertanyaan tentang kebiasaan tidurnya. Para peneliti juga mengidentifikasi hampir 2.400 orang yang mengalami serangan jantung pertama selama 11 tahun berikutnya.

Para peneliti menemukan bahwa orang yang mengalami kesulitan tidur hampir setiap hari mengalami 45 persen peningkatan risiko serangan jantung, dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami gangguan tidur.

Selain itu, orang yang mengalami kesulitan untuk tetap tertidur memiliki risiko 30 persen lebih tinggi terkena serangan jantung dibandingkan dengan yang tidak memiliki kesulitan untuk tetap tidur. Orang yang tidak merasa segar setelah tidur malam juga memiliki 27 persen peningkatan risiko serangan jantung, dibandingkan dengan yang merasa segar.

Menurut para peneliti, 33 persen dari populasi umum setidaknya memiliki satu gejala insomnia. Selain itu, kajian sebelumnya yang lebih kecil telah menemukan hubungan antara penyakit jantung dan insomnia serta tekanan darah tinggi dan serangan jantung.

Penelitian yang dilansir HealthDay, Selasa (25/20/2011) ini juga mencatat ada dua keterbatasan penting yang perlu diperhatikan. Pertama, peneliti tidak mempertimbangkan apnea tidur obstruktif, gangguan yang menyebabkan tidur terganggu karena jeda pernapasan selama tidur. Kedua, hasil ini mungkin tidak berlaku untuk Amerika karena jam dan pola tidur yang berbeda dengan Norwegia.

Temuan ini hanyalah sebatas hubungan dan sebab akibatnya belum terbukti. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan dan mengungkap mekanisme yang mungkin menyebabkan hubungan tersebut.

"Kajian sebelumnya telah menghasilkan hasil yang beragam dan masih belum diketahui apakah tidur yang lebih nyenyak menghasilkan jantung yang sehat," kata Dr. Gregg Fonarow, profesor kardiologi di University of California, Los Angeles dan juru bicara American Heart Association.

"Satu penjelasan yang mungkin untuk temuan ini adalah bahwa semua proses metabolisme dalam tubuh diatur oleh apa yang disebut irama sirkadian yang bervariasi antara siklus tidur-bangun," kata Dr Edward A. Fisher, The Leon H. Charney Profesor Kedokteran Kardiovaskular di Langone NYU Medical Center di New York City.

"Telah diketahui bahwa hewan yang terganggu ritme sirkadiannya berisiko mengalami perubahan metabolisme. Jika hal ini terjadi pada manusia, akan meningkatkan risiko penyakit jantung," ujar Fisher.


ir/ir)

email : sales[at]detik.com


detikhealth.com

Friday, November 04, 2011

Wanita Donorkan 50 Sel Telur Sekaligus, Nyawa Jadi Taruhan


Ilustrasi (foto: Thinkstock)London, Dengan obat-obatan hormon, seorang wanita bisa mengeluarkan 85 sel telur untuk didonorkan sekaligus. Meski demikian para pakar memperingatkan, efek samping obat tersebut bisa menyebabkan perut membengkak atau bahkan memicu kematian.

Pembengkakan setelah mendonorkan sel telur yang terjadi akibat penumpukan cairan di perut disebut dengan Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS). Dalam beberapa kasus, penumpukan cairan tersebut bisa memicu penyumbatan pembuluh darah yang berujung pada kematian.

Meski tidak sampai meninggal, seorang wanita di London baru-baru ini dilaporkan mengalami OHSS setelah mendonorkan 50 sel telur sekaligus. Agar bisa mengeluarkan sel telur sebanyak itu, ia memang diberi obat hormon oleh pengelola klinik kesuburan.

"Saya merasa dokter-dokter itu memperlakukan saya seperti mesin. Saya dianggap binatang, yang hanya disuruh menghasilkan telur sebanyak-banyaknya," ungkap wanita berusia 35 tahun yang tidak disebutkan namanya itu seperti dikutip dari Myfoxmemphis, Selasa (25/10/2011).

Sekitar 3 bulan setelah mendonorkan sel telur, wanita itu mengalami pembengkakan hebat hingga menyerupai orang hamil. Yang sangat mengecewakan baginya adalah, dokter sama sekali tidak memberi tahu adanya kemungkinan efek samping seperti ini sebelumnya.

Menurut International Federation of Fertility Societies, pengambilan 50 sel telur dalam sekali waktu sangat berisiko apabila dilakukan dengan obat hormon. Jangankan 50, pengambilan 20 sel telur saja bisa meningkatkan risiko OHSS hingga 85 persen jika dilakukan sekaligus.

Namun karena imbalan bagi donor sel telur di Inggris saat ini ditingkatkan 3 kali lipat, tampaknya klinik kesuburan tidak mau rugi dengan mengambil sel telur sebanyak-banyaknya. Dilaporkan rekor pengambilan sel telur terbanyak di Inggris dalam beberapa bulan terakhir mencapai 85 sel telur.

Tak heran jika laporan kasus OHSS di Inggris meningkat dalam beberapa bulan terakhir, yakni 217 kasus antara Maret 2010 hingga Februari 2011. Angka ini naik tajam dari 114 kasus pada periode setahun sebelumnya dan hanya 64 kasus sepanjang 2008.


up/ir)

email : sales[at]detik.com


detikhealth.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | fantastic sams coupons