-
-

Wednesday, December 07, 2011

Kenangan Buruk Bisa Hilang Hanya dengan Tidur dan Bermimpi


Ilustrasi (foto: Thinkstock)Berkeley, Saat mengalami hal yang tidak menyenangkan, seseorang biasanya jadi susah tidur karena takut mimpi buruk. Namun menurut penelitian, tidur dan membiarkan otak berimajinasi dalam mimpi justru ampuh menghilangkan kenangan buruk tersebut.

Penelitian yang dilakukan di University of California di Berkeley ini menunjukkan, saat bermimpi otak akan mengaktifkan saraf-saraf tertentu untuk meredakan ketegangan pikiran. Apapun jenis mimpinya, reaksi yang terjadi secara umum sama-sama menenangkan.

Reaksi yang memicu perubahan aktivitas sistem saraf di otak itu terjadi dalam fase Rapid Eye Movement (REM), ketika mimpi mulai terbentuk. Begitu bangun, orang tersebut memang tidak akan pernah menyadari apa yang terjadi di otaknya selama tertidur.

Aktivitas sistem saraf selama tidur itu akan membuat otak lebih mampu mengelola emosi, sehingga kenangan-kenangan buruk itu tidak akan jadi pikiran lagi. Mungkin tidak benar-benar hilang, namun setidaknya pikiran bisa fokus ke hal lain yang lebih berguna.

"Saat masuk fase REM, ingatan akan di-reaktivasi, disusun dengan perspektif tertentu yang terhubung dan terintegrasi, dalam kondisi tertentu yang membuat tingkat stres benar-benar ditekan," kata Els van der Helm yang melakukan penelitian itu seperti dikutip dari Telegraph, Kamis (24/11/2011).

Dalam penelitian eksperimental itu Helm melibatkan 35 partisipan orang dewasa yang secara fisik dan mental dalam kondisi sehat. Seluruhnya disuruh melihat 150 gambar-gambar menyedihkan, sebanyak 2 kali dalam sehari dengan jeda selama 12 jam.

Sebagian partisipan dipertontonkan gambar-gambar itu pada sore hari, lalu disurtuh tidur sambil diamati aktivitas otaknya dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Pagi harinya setelah terbangun, para partisipan dalam kelompok ini kembali dipertontonkan gambar yang sama.

Kelompok lainnya dipertontonkan gambar-gambar itu untuk pertama kalinya pada pagi hari, lalu dipertontonkan lagi 12 jam kemudian yakni pada sore harinya. Selama jeda tersebut, sepanjang hari partisipan beraktivitas seperti biasa dan tidak tidur apalagi bermimpi.

Hasilnya sepderti yang diduga, partisipan yang sempat tidur dan bermimpi memberikan respons yang berbeda ketika melihat gambar-gambar menyedihkan tersebut. Perbedaannya adalah lebih tenang dan lebih bisa menjaga jarak dengan perasaan dibandingkan partisipan yang tidak sempat tidur.up/ir) detikhealth.com

Dokter Bisa Lebih Pintar Kalau Baca Romeo and Juliet


Ilustrasi (foto: Thinkstock)Jakarta, Pujangga besar dari Eropa, William Shakespeare punya warisan berharga bagi para dokter. Lewat kisah romantis Romeo and Juliet dan sejumlah karya sastranya yang lain, pujangga ini menggambarkan dengan jelas hubungan otak dengan tubuh.

Hal itu diungkap oleh Dr Kenneth Heaton, seorang dokter dari University of Bristol yang juga peneliti karya-karya Shakespeare. Sedikitnya ia telah mempelajari 42 karya puisi dan naskah drama milik Shakespeare, lalu menganalisisnya secara medis.

Gejala vertigo, pusing dan kepala berkunang-kunang ditemukan Dr Heaton pada 5 tokoh yang mengalami gangguan emosi dalam karya-karya Shakespeare berikut ini:

1. The Taming of the Shrew
2. Romeo and Juliet
3. Henry VI Part 1
4. Cymbeline
5. Troilus and Cressida.

Keluhan sesak napas saat para tokohnya mengalami lonjakan emosi yang berlebihan digambarkan dalam karya-karya berikut ini:

1. Two Gentlemen of Verona
2. The Rape of Lucrece
3. Venus and Adonis
4. Troilus and Cressida.

Kesedihan yang berlarut-larut lalu diikuti dengan rasa letih atau fatigue ditemukan dalam karya-karya berikut ini:

1. Hamlet
2. The Merchant of Venice
3. As You Like It
4. Richard II
5. Henry IV Part 2.

Gangguan pendengaran pada saat mengalami krisis mental dan emosional ditemukan dalam karya-karya berikut ini:

1. King Lear
2. Richard II
3. King John.

Keringat dingin atau pingsan akibat keterkejutan yang mendalam ditemukan dalam karya-karya berikut ini:

1. Romeo and Juliet
2. Julius Caesar
3. Richard III
4. dan lain-lain.

Dr Heaton menilai, karya-karya Shakespeare tersebut bisa membantu dokter di masa kini untuk lebih memahami gangguan-gangguan psikosomatis, yakni keluhan fisik yang biasanya dilatarbelakangi oleh gangguan secara psikologis. Dengan pemahaman yang benar, maka penanganannya akan lebih tepat.

"Banyak dokter enggan mengaitkan keluhan fisik pada pasiennya dengan gangguan emosi yang dialami. Hasilnya adalah diagnosis yang tertunda, investigasi berlebihan dan pengobatan yang tidak perlu," ungkap Dr Heaton dalam laporannya di Journal of Medical Humanities seperti dikutip dari Healthday, Kamis (24/11/2011).

Ditambahkan oleh Dr Heaton, dokter-dokter akan bisa lebih memahami fenomena psikosomatis ini dengan lebih banyak mempelajari contoh kasus. Contoh-contoh seperti itu, menurutnya banyak ditemukan dalam balutan kisah-kisah romantis besitan William Shakespeare.

(up/ir) detikhealth.com

Tuesday, December 06, 2011

Cewek Optimistis Sering Dapat Nilai Bagus, Tapi Cowok Tidak


(Foto: thinkstock)Beersheba, Israel, Menjadi orang yang optimistis itu perlu agar menjadi lebih percaya diri menghadapi segala situasi. Tapi dalam hal akademik, nampaknya itu hanya berlaku bagi siswa perempuan. Karena siswa laki-laki yang optimistis cenderung terlalu percaya diri dan meremehkan.

Penelitian yang dilakukan oleh Ben Gurion University menunjukkan siswa perempuan yang lebih optimistis cenderung mendapat nilai lebih tinggi daripada rekan-rekannya yang kurang optimis.

Sedangkan pada siswa laki-laki, terlalu optimistis menyebabkan terlalu percaya diri dan kurang belajar sehingga nilainya menjadi lebih rendah.

"Optimisme pada siswa laki-laki dapat menyebabkan terlalu percaya diri atau bersikap bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja dan menghasilkan yang terbaik. Jadi, bukannya belajar untuk mempersiapkan ujian, mereka malah pergi pada malam hari sebelum ujian," kata Tamar Icekson, Ph.D. mahasiswa BGU’s Guilford Glazer Fakultas Bisnis dan Manajemen.

Icekson bersama Prof Ayala Pines Malach, dekan fakultas bisnis BGU dan Prof Oren Kaplan dari Israel's College of Management, memeriksa sikap dan nilai 174 mahasiswa BGU yang terdiri dari laki-laki 28% dan perempuan 72%. Mahasiswa tersebut berusia 20 sampai 28 tahun, dengan usia rata-rata 24 tahun.

Icekson dan Kaplan memfokuskan penelitiannya pada psikologi positif, yaitu efek emosi dan pikiran yan positif terhadap perilaku. Siswa laki-laki yang dinilai paling optimis mendapat nilai paling rendah.

Dalam Konferensi Internasional Psikologi Positif, Icekson mempresentasikan bahwa optimisme pada siswa laki-laki melunakkan sifat kehati-hatian untuk menghasilkan yang terbaik.

Namun tidak ditemui kaitan yang mencolok antara rasa hati-hati di kalangan siswa perempuan dengan prestasinya karena siswa perempuan tidak memerlukannya untuk mendapat nilai yang tinggi.

"Untuk siswa perempuan, optimisme saja sudah bermanfaat karena perempuan secara alami lebih berhati-hati daripada pria. Perempuan memiliki penghargaan diri yang rendah, jadi jika mereka tidak yakin akan berhasil, mereka akan belajar untuk ujian," kata Icekson seperti dilansir situs resmi Ben Gurion University, Kamis (24/11/2011).

Dalam penelitian Icekson, setiap peserta menyelesaikan kuesioner laporan diri. Optimisme dinilai menggunakan Test Orientasi Kehidupan yang terdiri dari 10 pertanyaan seperti: "Jika sesuatu hal yang salah bisa menimpa saya, maka hal itu akan terjadi" atau "Dalam situasi yang tidak pasti, saya akan mengharapkan yang terbaik". Sedangkan prestasi akademik dinilai menggunakan gelar kesarjanaan.

ir/ir) detikhealth.com

Psikoterapi Bantu Remaja Atasi Gejala Fibromyalgia


(Foto: Thinkstock)Jakarta, Fibromyalgia adalah kondisi yang bisa memicu depresi dan cacat. Tapi remaja yang mengalami fibromyalgia sejak kecil bisa diringankan gejalanya dengan melakukan psikoterapi.

Orang dengan fibromyalgia mengalami kelelahan dan nyeri kronis pada sendi serta otot, dan kondisi ini juga bisa menyebabkan cacat dari segi fisik, sosial serta gangguan emosional.

Peneliti menuturkan remaja dengan fibromyalgia yang menjalani psikoterapi seperti terapi perilaku kognitif mengalami peningkatan sebesar 37 persen dalam menangani gejala yang muncul, sedangkan kelompok kontrol hanya mengalami peningkatan 12 persen.

Sedangkan untuk penurunan rasa sakit, kelompok yang mendapatkan psikoterapi mengalami penurunan meski secara klinis tidak terlalu signifikan. Kondisi ini lebih banyak dialami oleh perempuan dibanding laki-laki.

"Bila ditambahkan dengan perawatan medis yang standar, maka terapi perilaku kognitif bisa membantu meningkatkan fungsi sehari-hari dan kesejahteraan secara menyeluruh dari remaja dengan fibromyalgia," ujar peneliti Susmita Kashikar-Zuck, psikolog dari Cincinnati Children's Hospital Medical Center, seperti dikutip dari LiveScience, Kamis (24/11/2011).

Hal ini karena terapi perilaku kognitif bisa membantu mengintervensi psikologis remaja untuk mengatasi dan memperbaiki pola berpikir negatifnya yang bisa meningkatkan gejala fibromyalgia.

Dalam studi ini peneliti melibatkan 114 remaja yang berusia antara 11-18 tahun yang berasal dari pusat rheumatologi pediatric dari tahun 2005 sampai 2009. Hasil studi ini telah dipublikasikan secara online pada 22 November 2011 dalam jurnal Arthritis & Rheumatism.

Sampai saat ini penyebab fibromyalgia belum diketahui. Namun pasien akan memiliki fase tidur non-REM (Rapid-Eye-Movement) yang terganggu sehingga bangun dalam kondisi kelelahan serta tidak segar.


ver/ir) detikhealth.com

Psikopat Perlu Waktu Berpikir Agak Lama Saat Mau Bicara


Ilustrasi (foto: Thinkstock)Jakarta, Seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Perilaku psikopat malah kadang cukup menawan, sopan dan jarang bersikap emosional. Psikopat jarang berbicara yang spontan karena setiap akan bicara ia perlu waktu berpikir.

Penelitian terbaru yang dilakukan Michael Koenigs, seorang asisten profesor psikiatri di University of Wisconsin School of Medicine and Public Health menemukan perbedaan dalam otak psikopat dan pola bicara bisa menjelaskan perilaku anti sosialnya.

Untuk memeriksa keterlibatan emosi dari pola bicara, peneliti melihat sejumlah faktor. Faktor tersebut termasuk seberapa sering psikopat menggambarkan kejahatannya dengan menggunakan bentuk lampau. Menceritakan peristiwa yang menegangkan di masa lalu dapat menjadi indikator detasemen psikologis.

Para peneliti juga menemukan dysfluencies yang mengganggu pidato pada para psikopat. Dysfluencies tersebut menunjukkan bahwa pembicara membutuhkan beberapa waktu untuk berpikir tentang apa yang akan mereka katakan.

Menurut hasil penelitian baru itu, perbedaan dalam otak psikopat mungkin dapat membantu menjelaskan perilaku anti sosial mereka. Hasil penelitian baru tersebut telah dipublikasikan dalam Journal of Neuroscience edisi terbaru.

Psikopat tidak sama dengan gila, skizofrenia, atau psikosis karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut sebagai psikopati, penderita psikopat seringkali disebut sebagai orang gila tanpa gangguan mental.

Diagnosa gejala psikopat membutuhkan pengamatan ketat dan dibutuhkan wawancara yang mendalam, serta pengamatan-pengamatan lainnya. Para ahli memperkirakan bahwa sekitar 1 persen dari populasi dunia didiagnosa sebagai psikopat.

Penelitian yang dilakukan untuk melihat ke dalam pikiran orang-orang psikopat telah menunjukkan perbedaan pada struktur otak psikopat. Selain ditemukan perbedaan pada struktur otak juga ditemukan perbedaan pada pola bicara orang psikopat.

Pada penelitian tersebut dilakukan scan otak pada para psikopat dipenjara Wisconsin. Peneliti menemukan hubungan yang lemah antara bagian dari otak yang berhubungan dengan empati dan pengambilan keputusan. Bagian tersebut dikenal sebagai korteks prefrontal ventromedial (vmPFC), dan bagian lain dari otak.

Dengan menggunakan dua jenis gambar, para peneliti membandingkan otak dari tahanan pria yang didiagnosa sebagai psikopat dengan para tahanan yang tidak didiagnosa dengan psikopat.

Pada para tahanan psikopat, para peneliti menemukan hubungan yang lemah antara bagian vmPFC dan bagian lain dari otak, termasuk amigdala. Amigdala itu sendiri dikaitkan dengan emosi, memori dan ketakutan.

"Interaksi antara vmPFC dan amigdala diyakini mendasari aspek regulasi emosi, agresi, dan kuatnya asosiasi stimulus," kata para peneliti seperti dilansir dari FoxNewsHealth, Kamis (24/11/2011).

Penelitian tersebut didasarkan pada penelitian sebelumnya. Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Koenigs dan Yusuf Newman, seorang profesor psikologi di University of Wisconsin Madison. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan psikopat menanggapi pengambilan tes dengan cara menyerupai pasien yang menderita kerusakan pada bagian vmPFC.

"Dua struktur di otak, yang diyakini mempunyai fungsi untuk mengatur perilaku emosi dan sosial, tampaknya tidak berkomunikasi sebagaimana mestinya. Sehingga perilaku emosi dan sosial penderita psikopat dapat sangat berbeda dengan orang normal," kata Koenigs.


ir/ir) detikhealth.com

Check the mirror: Sickness shows in your face

Beauty is more than skin deep, and we're not just talking about having a congenial personality.

"Our skin can reflect what's going on inside our body," says dermatologist Anne Chapas, M.D., of Union Square Laser Dermatology in New York City. "As part of the immune system, the skin defends against environmental factors. But when your body is fighting an ailment, it can get overwhelmed and things like acne and redness can show up." Here, how to read the signs in the mirror.

The problem: Chin acne

The cause: Hormonal imbalance

There's a reason many women have breakouts on their chin right before their period: That part of the face is particularly sensitive to rises in progesterone and testosterone. Many women simply experience mild acne, but if your breakouts tend to be more severe or painful and are no match for OTC treatments, it's time to see your ob-gyn.

The 25 Best Things You Can Do For Your Skin

"Deep, cystic acne on the chin or along the jaw line can be a sign of underlying polycystic ovary syndrome [PCOS] and other types of hormonal abnormalities," says Chapas. Left untreated, the condition can increase your risk for diabetes and infertility.

Get healthy: For certain patients, going on birth control pills is an effective way to balance hormone levels and clear up skin. (The pill is also very effective for treating symptoms of PCOS.) If you prefer a nonhormonal option, ask your M.D. about spironolactone, a prescription med that blocks testosterone receptors, thus preventing the skin's oil glands from going into overdrive in some patients. Skipping dessert can help too, since extra insulin stimulates the hormone production linked to breakouts. "Some studies show that eliminating processed sugars and sticking to whole grains, fruits, and vegetables may also mitigate the hormonal stimuli that can lead to acne," adds Chapas.

Find the Right Birth Control

Look better now: Chapas recommends using a product that contains salicylic acid and sulfur. Try Murad Acne Spot Treatment ($18, murad .com). Dab it onto the pimple and surrounding area so the salicylic acid can open and clear the pore; sulfur calms the inflammation. In the meantime, cover up with a matte cream-to-powder concealer, which stays put even as your chin moves when you talk, eat, or laugh. "Apply with a tiny brush to get each pimple," recommends makeup artist Emily Kate Warren.


The problem: Dark under-eye circles and puffiness

The cause: Allergies

Chronic allergies dilate blood vessels and can cause them to leak, which creates puffiness and that telltale dark purple-blue hue. "Many people don't even realize they're suffering from allergies. They come in wanting a professional dermatologic fix because they think it's too early or late in the season for pollen, or they've never had a problem before," explains Ranella Hirsch, M.D., a Boston dermatologist and past president of the American Society of Cosmetic Dermatology and Aesthetic Surgery.

And because allergens also trigger the release of histamine, a chemical that contributes to the puffiness and can make eyes itchy and runny, you rub your eyes. A lot. Which only makes the swelling and discoloration worse. "By irritating the thin skin around your eyes, you may even create more leaky capillaries," says Hirsch.

Allergic? Find, and Crush, the Culprits

Get healthy: If the symptoms are new and you haven't been keeping unusually late nights, try an over-the-counter antihistamine like Allegra or Zyrtec. Taking the medicine as directed should lessen the irritation in a few weeks. If that doesn't give you any relief and you're unsure of the culprit, see your doctor so she can pinpoint the cause and zero in on the best treatment.

Look better now: Chapas recommends massaging away the excess fluid every morning with a beauty tool such as the Garnier Nutritioniste Skin Renew Anti-Puff Eye Roller ($12, at drugstores). "The roller helps push out the fluid, while ingredients such as caffeine constrict vessels to minimize leaking," she says.

To temper the bruise-like color, "pick a matte concealer that's the same tone as your foundation--not lighter or shimmery, which will highlight the puffiness," says Warren. Try Nars Concealer (1), $30, sephora.com. Use your pinkie or ring finger to lightly dab the concealer onto the dark areas only, including the cavity between the eyes and nose. Tap the edges so the color blends seamlessly into your skin.

To neutralize redness, use a face primer with a green base.

Favorite Skin Products of the Experts


The problem: Redness and blotchiness

The cause: Stress, a digestive disorder, or lupus

Red blotches that come and go on the face and neck can be stress-related; they can be triggered by fluctuations in stress hormones, says Hirsch. Rosacea, clusters of tiny pimple-like red bumps, can be a sign of digestive ailments.

"The skin and gastrointestinal tract are both designed to protect the body by keeping things out. That may be why digestive problems can show up on the skin," explains Chapas. When rosacea sufferers took antibiotics to clear high levels of bacteria in their small bowels, their skin improved, according to a 2008 study published in Clinical Gastroenterology and Hepatology.

Most serious is a malar rash, a symmetrical butterfly-shaped red rash that usually covers the top and middle of both cheeks. "It's a classic symptom of lupus, a disease that attacks the immune system," explains Hirsch. If you feel more tired than usual, are bruising easily, and are losing or gaining weight, see your doctor pronto.

Get healthy: Stay away from the sun and spicy foods--both can exacerbate redness. Engaging in stress-relieving activities (like yoga or meditation) may help. Also, try to up your intake of probiotics, the healthy bacteria that helps regulate digestion and calm inflammation. Yogurt with live cultures, kefir (a yogurt-like drink), and miso are all good sources. You can also consider taking a supplement such as Phillips' Colon Health, which contains three probiotic strains.

Erase years from your face with these complexion-perfecting tips

Look better now: To neutralize redness, try a face primer with a green base. Warren likes Make Up For Ever HD Microperfecting Primer in Green (2), $32, sephora.com. "Use it as foundation or mix it into your favorite concealer if you're just covering smaller red areas," she says. Apply it with a soft eye-shadow brush, then use your fingertips to blend the edges into your skin. Set it with a light dusting of a finely milled powder.


More Links:
What Your Hair Color Says About Your Health
10 Self-Checks to Do Before Breakfast
The 10 Best Yoga Poses for Women
Be Beautiful This Fall with Aloe Vera

Discussion comments

Pantangan dan Anjuran Usai Memutihkan Gigi


(Foto: thinkstock)Jakarta, Memutihkan gigi akan menjadi sisa-sia jika tidak memperhatikan dan makanan yang dikonsumsi. Beberapa makanan bisa menjaga gigi tetap putih tapi beberapa makanan lain justru mempercepat pemudaran warna gigi yang telah putih.

Salah satu cara yang paling utama adalah dengan memperhatikan makanan yang dimakan. Memakan makanan tertentu dan menghindari makanan lainnya dapat membantu menjaga gigi tetap putih setelah menggunakan pemutih.

"Bagi banyak orang yang telah mendapat hasil memuaskan setelah menggunakan produk pemutih gigi atau mengunjungi dokter gigi, yang menjadi perhatian cukup signifikan adalah bagaimana menjaga gigi tetap putih setelah pemutihan," kata Dr Raymond Garrison, profesor dan ketua Wake Forest Baptist Departemen Kedokteran Gigi seperti dilansir Healthday.com, Rabu (23/11/2011).

Dr Garrison menjelaskan ada makanan yang benar-benar membantu untuk menjaga gigi tetap putih, bahkan dapat membantu menghindari waktu dan biaya yang diperlukan untuk memutihkan gigi.

Makanan yang dianjurkan usai melakukan pemutihan gigi adalah:

1. Produk buah-buahan dan sayuran seperti apel, buncis, kembang kol, wortel dan seledri membantu menggosok gigi saat dikunyah. Makanan seperti ini juga membantu meningkatkan aliran air liur yang menetralisir asam dan melindungi gigi.

2. Produk susu yang kaya kalsium dan keju juga membantu menjaga gigi tetap putih. Asam laktat dalam produk ini membantu mencegah kerusakan. Keju yang keras juga membantu menghilangkan partikel makanan yang tersisa di gigi.

Makanan yang harus dipantang atau dibatasi usai melakukan pemutihan gigi adalah:
1. Tembakau
2. Kecap
3. Minuman ringan, kopi, teh
4. Anggur merah dan putih
5. Blueberry.

Makanan ini harus dibatasi sangat mudah meninggalkan berwarna pada gigi yang telah diputihkan.

Pemutihan gigi sampai saat ini merupakan metode yang efektif untuk memutihkan gigi, namun dapat menyebabkan efek jangka pendek seperti gigi sensitif. Perawatan pemutihan yang terlalu banyak dapat menyebabkan kerusakan permanen pada gigi seperti erosi enamel.

"Sebelum melakukan pemutihan gigi atau menggunakan whitening kit, berkonsultasilah dulu ke dokter gigi," ucap Dr Garrison.


ir/ir) detikhealth.com

Monday, December 05, 2011

Formerly conjoined toddlers leave hospital

Two formerly conjoined toddlers from the Dominican Republic have left a Richmond hospital after recovering from separation surgery.

Maria and Teresa Tapia left Children's Hospital of Richmond at Virginia Commonwealth University on Friday. Doctors, nurses, volunteers and others who cared for them gave the girls and their mother and aunt a warm send-off.

The 20-month-old girls were joined at the chest and underwent complicated, nearly daylong surgery on Nov. 7. In a series of procedures, the surgical team divided the twins' liver, pancreas and other shared organ systems and reconstructed their abdominal walls.

The girls will stay in Richmond for follow-up medical visits and outpatient therapy to continue to work on walking and other motor skills as they become accustomed to being separated. They're expected to go home by Christmas.

"They are enjoying life now that they're separated," said their mother, Lisandra Sanatis. "They enjoy seeing themselves as individuals."

While they're getting accustomed to exploring their surroundings separately, they still stay near each other and hold hands when they walk.

After being in Richmond for several months now, Sanatis says she and her daughters are ready to leave the confines of the hospital and return to their family in their native country.

"We're missing our family, and the girls miss their little brother, Lisander," Sanatis said.

They also haven't acquired a taste for American fare â€" including hospital meals â€" preferring instead to get takeout Dominican food, including the traditional beans and rice and other dishes.

Well-wishers have extended their support, including Rocio Castanos, a friend of the Dominican first lady who popped in Thursday for a visit on the twins' last full day in the hospital. Castanos, who lives in Richmond, brought each girl a stuffed animal and offered to cook them some sancocho, a traditional Dominican soup.

Dr. David Lanning, a surgeon and head of the medical team that is caring for the 20-month-old girls, says they have been recovering well.

Maria, the smaller of the two, weighs about 19 pounds and Teresa weighs about 26 pounds. Lanning expects the disparity in their weight, caused by the configuration of their small intestines and blood flow from the liver, to gradually even out.

Maria's pancreas is slow to produce digestive enzymes, but she is taking replacement enzymes. Teresa is undergoing treatment on the incision where the girls were separated.

The toddlers were scheduled to leave the hospital Friday. They will remain in Richmond while they undergo outpatient therapy to relearn walking and otherwise reorient their movements now that they're no longer attached.

Discussion comments

Friday, December 02, 2011

Dangerous beauty: FDA discusses contaminated cosmetics

It was 2000, and Seattle esthetician Stacya Silverman won a bag of beauty products at a Las Vegas spa convention, including a seemingly innocuous eye cream.

"I open up the eye cream, and I'm all excited. But the top is all brown, and it has little dots on it. That should've been my first clue," Silverman recalls. "I sort of broke through the crust, and I put it on. My eyes started burning, and then they started leathering up. I looked like a lizard ... for five days."

You might know and follow all the rules to keep your cosmetics safe: Don't share makeup, regularly wash your brushes and applicators and, for god's sakes, throw that stuff out every once in a while . But what if your, say, eye shadow or hair conditioner is contaminated with bacteria, yeasts or molds â€" before you even open the packaging?

On Wednesday, the U.S. Food and Drug Administration is holding a public meeting examining microbiological safety issues in cosmetics. Currently, the FDA doesn't approve cosmetics before they are sold to consumers and has no specific regulations regarding microbial safety in cosmetic products. But the agency is contemplating developing such safety guidelines for cosmetic makers, and the public meeting will give leading experts a chance to have their say.

Contaminated cosmetics, particularly those used in the eye area, can lead to serious issues, according to the FDA. If lotion, often used on the whole body, is tainted, it can lead to infections.

Find other TODAY Health fans. "Like" us on Facebook!

Reports of adverse events to the FDA can range from a simple rash to something more serious, like facial swelling or breathing troubles. Stephanie Yao, a spokeswoman for the agency, says the public meeting isn't being held because of increased reports of microbial contamination of cosmetics â€" she calls it more of a "start to the conversation about microbiological safety issues in cosmetics rather than a response to a problem."

During the meeting, the FDA will also address testing cosmetics for contamination, the efficacy of preservatives and how packaging can harbor bacteria.

When it comes to cosmetics, the FDA's legal authority is different from some of the other products the agency regulates, like drugs, biologics or medical devices. Cosmetics aren't subject to FDA premarket approval (except for color additives); instead, cosmetic companies are responsible for testing and ensuring the safety of their products and ingredients before they hit the market.

When there is a problem, the FDA finds out after the fact from reports by consumers, health care providers, inspections and products surveys.

Earlier this month, a John Frieda conditioner (specifically, John Frieda Sheer Blonde Highlight Activating Enhancing Conditioner for Lighter Shades) was recalled due to microbial contamination. And in late October, Purity Cosmetics' 100% Pure Cocoa Plum Eye Shadow was recalled after the item was found to harbor Pseudomonas Luteola, a bacterium that can cause peritonitis, cellulitis and bacteremia.

Most cosmetics contain preservatives, like formaldehyde donor preservatives and parabens, that target and kill bacteria cells or spores in cosmetics, so contamination isn't usually a big problem, explains Perry Romanowski, a cosmetic chemist and one of the writers of the popular cosmetic science blog The Beauty Brains.

"The trick is to use these compounds at levels that are not high enough to cause harm to human cells. This has been done safely for decades," Romanowski explains. When contamination is seen in cosmetics, it's usually from bacteria, yeasts or molds.

Of course, contamination in cosmetics is often due to operator-error . Keeping your beauty products in a hot and humid place â€" like your bathroom â€" can promote bacteria growth. And hanging on to products for too long can increase the potential for contamination.

Story: Germs lurking in old makeup: It isn't pretty

Anything that goes on or near your eye â€" especially liquids and creams â€" needs to be tossed about every three months, says Silverman, who started Beauty Alert, a company that manufactures stickers to remind you when to chuck old products. And whenever you can, use skin care products or foundation that comes in a pump, not a jar, which are more easily contaminated.

"The key is to never share personal care products with other people, and especially don't share ones which require you to touch the product directly in the package," Romanowski says.

Follow TODAY.com health writer Melissa Dahl on Twitter: @melissadahl.

Reprints

Discussion comments

High levels of arsenic found in fruit juice

The apple and grape juice your kids are drinking may have arsenic at levels high enough to increase their risk of cancer and other chronic diseases, according to a new study by Consumer Reports.

A full 10 percent of the juices tested by the magazine had arsenic levels higher than what is allowed in water by the Food and Drug Administration.

“What we’re talking about here is not about acute affects,” Urvashi Rangan, senior scientist at Consumer Reports, told TODAY’s Savannah Guthrie. “We’re talking about chronic effects. We’re talking about cancer risk. And so, the fact that 10 percent of our samples exceeded the drinking water standard underscores the need for a standard to be set in juices.”

The fear is that over time arsenic will accumulate in children’s bodies and raise their risk of cancer and other serious illnesses, Rangan explained.

The new report echoes a study commissioned by Dr. Mehmet Oz back in September. When Oz reported his findings on his popular television show, the FDA responded by calling Oz’s study flawed and “extremely irresponsible.”

Story: Statements made in response to TODAY report on arsenic levels in apple and grape juice

One of the issues the FDA had with Oz’s study was its failure to separate out measurements of inorganic and organic arsenic. Studies have linked inorganic arsenic to a variety of cancers. But many consider organic arsenics â€" especially the types commonly found in seafood - to be safe.

As far as Consumer Reports is concerned, that’s a head-in-the-sand approach.

“Questions have been raised about the human health effects of other types of organic arsenic in foods, including juices,” the magazine noted. “Use of organic arsenic in agricultural products has caused concern. For instance, the EPA in 2006 took steps to stop the use of herbicides containing organic arsenic because of their potential to turn into inorganic arsenic in the soil and contaminate drinking water.”

Beyond this, there’s evidence that organic arsenic converts into the inorganic form when chickens consume feeds that contain the compound, Consumer Reports researchers noted.

For its new study Consumer Reports tested 88 samples of apple and grape juices sold around the nation. Included among those tested were popular brand name juices like Minute Maid, Welch’s and Tropicana.

The study found five samples of apple juice and four of grape juice that had total arsenic levels exceeding the 10 parts per billion (ppb) federal limit for bottled and drinking water. “Most of the total arsenic in our samples was inorganic,” Consumer Reports noted.

Will you avoid fruit juice now? Tell us on Facebook

The brand with the lowest arsenic level was Welch's Pourable Concentrate 100% Apple Juice (1.1-4.3 total arsenic ppb). Other juices with low arsenic levels include: America's Choice Apple; Tropicana 100% Apple; and Red Jacket Orchards 100% Apple.

Current FDA guidelines require water to have no more than 10 ppb of inorganic arsenic. The agency also has standards for juices and those allow higher levels of the compound â€" 23 ppb. The level is allowed to be higher because it’s assumed that people will consume more water than juice in the course of a normal day.

Rangan took exception to that line of thinking because the standard is based on how much water an average adult will drink in a day. “It’s not about a child who weighs far less,” she told Guthrie.

The new findings add to a growing body of evidence suggesting that juices may not be as safe as we think. Rangan pointed to an FDA study that found arsenic levels at 86 parts per billion in a baby apple juice.

A spokesperson for the Juice Products Association said she found the new report reassuring since it found no sample that tested higher than what is currently required by the FDA for juices.

“They showed that the juice samples they tested met the Food and Drug Administration’s limit on arsenic in juice,” toxicologist Gail Charnley told Guthrie. “The toxicologists and the food safety experts at the FDA set that limit in a precautionary public health based kind of way. And the food industry is committed to meeting those limits.”

The new report might prompt the FDA to change its standards for juices. In a written statement, the agency explained its response to the new data.

"We welcome the research that Consumer Reports has undertaken and look forward to reviewing the data that formed the basis for their story and their recommendations,” the agency noted. “We continue to find the vast majority of apple juice tested to contain low levels of arsenic, including the most recent samples from China. For this reason, FDA is confident in the overall safety of apple juice consumed in this country. By the same token, a small percentage of samples contain elevated levels of arsenic. In response, FDA has expanded our surveillance activities and is collecting additional data”

If that leads the FDA to change its standards for juices then the juice manufacturers will comply, Charnley said.

That was all good news to Oz.  If we look at how the nation handled a similar problem two decades ago, it’s clear that we can make a difference for our kids, he said.

“Twenty-five years ago we had a problem with lead in America,” Oz told Guthrie. “And we have over the last generation been able to reduce by 90 percent the amount of lead that our kids are exposed to and that is found in their blood.  As a doctor it makes me much more confident that we can do the same thing for arsenic.”

Linda Carroll is a regular contributor to msnbc.com and TODAY.com. She is co-author of the new book "The Concussion Crisis: Anatomy of a Silent Epidemic”

Reprints

Discussion comments

Fish in diet may ward off Alzheimer's

Eating fish may keep the brain healthy and reduce the risk of Alzheimer's disease, a new study says.

In the study, people who ate baked or broiled fish at least once a week had larger volumes of gray matter in areas of the brain known to be involved in memory and learning. Moreover, people with larger volumes in these areas reduced the risk of developing Alzheimer's disease five-fold over a five year period.

People who ate fried fish, on the other hand, did not gain protection against Alzheimer's.

The findings suggest lifestyle choices can ward off Alzheimer's disease, said study researcher Dr. Cyrus Raji, of the University of Pittsburgh School of Medicine.

While other research has linked fish consumption to a lower risk of Alzheimer's disease, the study is the first to examine the effect of eating fish on the actual structure of the brain, Raji said.

The study was presented today (Nov. 30) at the Radiological Society of North America annual meeting in Chicago.

Gray matter boost
The study involved 260 people who answered questions about their weekly fish consumption, and then had their brains scanned using magnetic resonance imaging (MRI) 10 years later.

People with greater volumes of gray matter in brain areas called the hippocampus, posterior cingulated and orbital frontal cortex were less likely than others to have Alzheimer's disease or a type of impaired thinking know as mild cognitive impairment.

The link held even after the researchers took into account factors that could affect a person's risk for Alzheimer's, including participants' age, gender and physical activity.

Gray matter is important for the brain's ability to function, and decreases in gray matter volume indicate the brain is shrinking, Raji said.

Good for the brain
Fish contains omega-3 fatty acids, which may benefit the brain and protect against Alzheimer's disease, Raji said. Omega-3s improve blood flow to the brain, which in turn delivers more oxygen and nutrients to brain cells. In addition, omega-3s reduce inflammation in the brain, and can protect against the buildup of the amyloid plaques thought to be the cause of Alzheimer's disease, Raji said.

It's possible lifestyle factors other than those accounted for in this study, including socio-economic factors, contributed to the lowered Alzheimer's disease risk seen among some people in the study, the researchers said.

In a recent report, the National Institutes of Health reviewed data on risk factors for Alzheimer's disease, and concluded that the evidence available now is insufficient to say that any modifiable risk factor, such as diet, influences the development of Alzheimer's disease.

More research is needed to validate the results, according to the study.

Pass it on: Consumption of baked or broiled fish may protect against Alzheimer's disease. 

Discussion comments

Thursday, December 01, 2011

Flu Terus Karena Ujung Tongkat Biliar Ada di Hidung 12 Tahun



Chantel Faill (dok. thesun)Broughton, Lincs, Seorang wanita selalu merasa flu dan sakit kepala konstan selama 12 tahun terakhir tanpa mengetahui apa penyebabnya. Namun setelah terbatuk-batuk keras, ada sebuah ujung tongkat biliar yang keluar dan ternyata telah bersarang dihidungnya selama 12 tahun.

Chantel Faill (31 tahun) mengalami sakit kepala yang konstan, infeksi dan gejala flu yang terus-menerus tanpa diketahui pasti apa penyebabnya. Berbagai pemeriksaan medis telah gagal menemukan penyebab pasti pilek dan nyeri di kepala yang selalu ia rasakan.

Penyebab flu dan sakit kepala konstan akhirnya terungkap setelah ujung tongkat biliar berukuran 2 cm muncul saat Chantel terbatuk keras. Ujung tongkat biliar yang menutupi jaringan di dekat tulang pipi dan hidung ternyata sudah bersarang di tubuh Chantel sejak 12 tahun yang lalu, ketika ia mengalami sebuah kecelakaan di pub pada tahun 1999.



Saat itu, ibu yang kini memiliki 3 orang anak itu mengalami kecelakaan di pub ketika seorang teman prianya yang sedang memegang tongkat biliar di lekuk lengannya memberi pelukan erat.

Tongkat biliar kemudian menghujam bagian atas mulut Chantel, yang membuatnya harus segera dilarikan ke rumah sakit. Tapi saat itu, petugas medis hanya memberinya obat pereda nyeri.

Seandainya saat itu ia langsung dirontgen, itu akan menunjukkan bahwa ada ujung tongkat biliar yang tertinggal dan menusuk tulang pipi. Ujung tongkat yang berukuran 2 cm tersebut akhirnya menuju sinus sebelum akhirnya pindah ke rongga hidung.

"Ini adalah 'kejutan besar', ketika batuk benda itu keluar," ujar Chantel Faill yang pernah bekerja sebagai pelayan, seperti dilansir Thesun, Kamis (17/11/2011).

Chantel akhirnya menjalani operasi untuk benar-benar membersihkan hidungnya dan kini ia mulai menjalani pemulihan di rumahnya di Broughton, Lincs, dengan pasangannya dan anak-anaknya berusia 9, 6 dan 2 tahun.

"Saya tidak pernah berpikir itu ada hubungannya dengan kecelakaan itu. Pada musim panas saya mengira sakit ini karena saya sedang hamil atau hanya sedang tidak enak badan. Dan di saat musim dingin saya kira ini hanyalah flu biasa. Itu selalu terjadi di salah satu sisi wajah. Hidungku selalu berair atau mampet. Saya selalu merasa ada tekanan di hidung dan saya tidak pernah tahu penyebabnya," jelas Chantel.

Konsultan Mohamed Abbas Ali, dari Scunthorpe Hospital, ini adalah hal yang tidak biasa. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar ada ujung tongkat biliar yang masuk ke sinus.

"Ini tidak dapat dilihat pada X-ray (karena sudah masuk lebih dalam), itulah mengapa tidak ada orang yang curiga ada benda asing. Kami menggunakan CT scan untuk melihat di mana itu telah bersembunyi," jelas Mohamed Abbas Ali.

mer/ir)
detikhealth.com

Minat Ber-KB Warga Maluku Terhambat Ombak Musim Timur



(dok: detikHealth)Ambon, Ganasnya ombak musim timur menjadi hambatan tersendiri bagi pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) di kepulauan Maluku. Karena beberapa wilayahnya susah dijangkau, metode kontrasepsi permanen bisa jadi solusi bagi warga yang memang berminat ikut KB.

Seorang bidan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Maluku, Ona Septory mengakui sendiri keganasan ombak di perairan Maluku. Pada musim-musim tertentu, tidak semua kapal bisa berlayar karena sangat riskan terhempas oleh ombak.

"Kesadaran orang sudah tidak seperti dulu, tidak tertarik lagi punya banyak anak. Tapi kendalanya musim timur, ketika ombak di lautan sangat bergelora," kata Ona di sela-sela peluncuran Program Penggarapan KB Kepulauan 2011, di Lantamal IX Ambon, Kamis (17/11/2011).

Ona mengatakan, beberapa pulau kecil seperti Pulau Kelang dan Pulau Manipa tidak bisa dijangkau para petugas dari BKKBN pada musim timur atau musim angin bertiup kencang. Para petugas yang umumnya adalah bidan perempuan tidak berani berlayar dengan perahu kecil karena ombaknya sangat besar sekitar bulan Januari hingga Maret.

Keluhan ini diakui juga oleh Wakil Gubernur Maluku, Said Assagaff yang juga hadir dalam acara peluncuran program BKKBN tersebut. Menurutnya keberadaan armada perintis sudah sangat mendesak untuk diprioritaskan untuk menunjang program KB maupun layanan kesehatan pada umumnya.

"Ada beberapa wilayah kepulauan yang terisolir, kita punya sekitar 18 pulau terluar yang tidak ada fasilitas kesehatannya. Idealnya kita butuh antara 15-20 armada perintis. Itu dulu yang akan kita upayakan, baru nanti fasilitas yang lain menyusul," kata Said.

Sementara itu, Kepala BKKBN Sugiri Syarief mengatakan bahwa kurangnya fasilitas bergerak di wilayah kepulauan turut menghambat program KB. Meski prioritas KB tetap di Jawa dan Sumatera yang wilayah padat penduduk, namun wilayah kepulauan tetap perlu diperhatian untuk meningkatkan kualitas hidup berkeluarga.

"Maluku itu kan daerah kepulauan dan musimnya tertentu. Karena sulit dijangkau, kalau bisa metode kontrasepsinya jangan pilih yang jangka pendek. Gunakan yang jangka panjang seperti IUD (Intra Uterine Device), MOP (Metode Operasi Pria), MOW (Metode Operasi Wanita) atau implan," kata Sugiri.

Dalam program Penggarapan KB Kepulauan 2011, BKKBN Provinsi Maluku mendapat dana sekitar Rp 2 miliar, ditambah bantuan fasilitas dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dana itu antara lain digunakan untuk menyewa sebuah kabal besar milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang akan beroperasi di 20 titik dan 200 kapal boat kecil berkapasitas 30 orang tenaga kesehat
(up/ir)
detikhealth.com

Kota Panjang Umur Berubah Jadi Kota Kanker



(Foto: thinkstock)Shandong, China, Sebuah kota di bagian timur Provinsi Shandong China terkenal dengan sebutan 'kota panjang umur' karena banyak penduduk lanjut usianya yang berumur panjang. Tapi kota tersebut kini telah berubah julukan menjadi 'kota kanker'.

Kota tersebut dapat julukan 'kota kanker' sejak banyak terjadi kematian akibat kanker selama 3 tahun terakhir di lebih dari 30 desa. Korban-korban yang meninggal tersebut diyakini telah jatuh sakit karena kanker setelah menghirup senyawa beracun dari bahan kimia yang dibuang secara ilegal oleh industri.

"Insiden kanker tersebut beberapa kali lebih tinggi dari normalnya dan telah terjadi di beberapa desa di Laizhou. Laizhou adalah kota kabupaten di provinsi Shandong," kata seorang dokter di Yantai, sebuah kota pesisir di Laizhou seperti dilansir dari ShanghaiDaily, Rabu (16/11/2011).

Warga mengaku harus menutup mata dan hidung dengan handuk basah ketika tidur agar tidak mencium bau zat kimia tersebut. "Bau zat kimia yang kuat ini telah dihirup selama 8 tahun terakhir," kata salah satu warga di Desa Haicangyi.

Bau kimia tersebut diklaim telah menyebabkan antara lain:
1. Iritasi mata
2. Iritasi hidung
3. Iritasi tenggorokan, yang dapat membuat para penduduk tersedak di malam hari

"Bau bahan kimia tersebut cukup beracun, karena terkontaminasi gas fenol, yang berasal dari limbah kimia pertanian. Bau bahan kimia tersebut telah menyebabkan kanker pernapasan, kanker darah, dan kanker hati," kata seorang ahli perlindungan lingkungan di Yantai pada surat kabar.

Pabrik Shandong Keyuan Pharmaceutical Co Ltd dan Laizhou Tengfei Pharmaceutical Co Ltd yang keduanya terletak di dekat desa dituding telah menyebabkan polusi tersebut. Kedua pabrik kimia tersebut dilaporkan telah memproduksi 2, 4-Dichlorophenoxyacetic acid (2, 4-D), tetapi tanpa lisensi atau izin.

Senyawa 2, 4-Dichlorophenoxyacetic acid (2, 4-D) adalah herbisida atau pestisida sistemik yang umum digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun. Herbisida tersebut paling banyak digunakan di dunia dan jadi herbisida ketiga paling umum yang digunakan di Amerika Utara.

Herbisida tersebut merupakan auksin sintetik yang merupakan hormon tanaman dan karena itu sering digunakan di laboratorium untuk penelitian tanaman dan sebagai suplemen dalam media kultur sel tanaman seperti media MS.

Pihak Qu Jaingsheng dan CEO Shandong Keyuan telah mengakui pihaknya memang memproduksi pestisida namun menolak untuk mengambil tanggung jawab atas insiden kanker yang terjadi pada banyak desa.

"Saya telah berada di industri kimia selama lebih dari 30 tahun, tetapi sampai sekarang saya masih begitu sehat. Hal tersebut normal bagi pabrik kimia yang telah membuang air limbah dan telah menyebabkan bau bahan kimia, sama seperti restoran," katanya.

Namun menurut seorang karyawan Shandong Keyuan yang tidak disebutkan namanya, pabrik kimia itu memang tidak pernah memproses limbah kimianya tetapi langsung dibuang di Teluk Laizhou di dekatnya.

"Penduduk desa mengatakan mereka telah menerima 700 yuan (US$ 110) untuk satu tahun sebagai kompensasi dari pabrik kimia tersebut, di bawah perintah dari pemerintah Kota Tushan," kata para penduduk desa.

ir/ir)
detikhealth.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | fantastic sams coupons