-
-

Tuesday, December 20, 2011

Menahan Pipis Saat Nyetir Efeknya Sama dengan Mabuk Alkohol


Ilustrasi (foto: Thinkstock)Jakarta, Jika mendadak ingin pipis saat berkendara, sebaiknya jangan ditunda untuk berhenti mencari toilet umum. Menurut penelitian, efek menahan pipis terhadap kemampuan otak untuk konsentrasi dan koordinasi sama buruknya dengan mabuk alkohol.

Ketika kandung kemih dalam kondisi terisi penuh, fungsi otak mengalami gangguan yang cukup serius sehingga susah konsentrasi dan lebih lambat dalam mengambil keputusan. Efek ini juga dialami ketika seseorang memiliki kadar alkohol dalam darah sebanyak 0,05 persen.

Bahkan ketika belum benar-benar kebelet, fungsi otak sudah mulai mengalami gangguan. Begitu seseorang mulai merasakan hasrat ingin pipis, fungsi otaknya sudah mengalami penurunan yang setara dengan kondisi ketika seseorang tidak tidur selama 24 jam.

Fakta ini terungkap dalam penelitian Dr Matthew Lewis dari Caulfield Hospital dan dipublikasikan baru-baru ini dalam jurnal Neurology and Urodynamics. Berkat penelitian ini pula, Dr Lewis pernah meraih penghargaan berupa Ig Nobel Prize beberapa waktu lalu.

"Kandung kemih yang dalam kondisi penuh bisa menurunkan kecepatan otak dalam memproses sebuah pengambilan keputusan, khususnya saat seseorang sedang mengemudi," tulis Dr Lewis dalam laporannya seperti dikutip dari News.com.au, Senin (5/12/2011).

Kesannya memang tidak serius, sebab Ig Nobel Prize selama ini identik dengan penelitian-penelitian konyol yang lebih menonjolkan sisi komedinya. Meski demikian, penelitian-penelitian lucu yang dilombakan di ajang ini selalu didasari fakta ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan.

Kalaupun ada yang masih meragukan kesimpulan ini, menahan kencing tetap tidak dianjurkan dengan alasan apapun. Para ahli urologi sepakat, terlalu lama dan sering menahan kencing bisa menyebabkan kerusakan serius pada ginjal maupun saluran kemih.


up/ir) detikhealth.com

Monday, December 19, 2011

Mati Mengenaskan Cuma Gara-gara Mimisan


Ilustrasi (foto: Thinkstock)Gravesend, Inggris, Meski sangat jarang terjadi, mimisan juga bisa berakibat fatal jika tidak tertangani dengan baik. Seorang pria di Inggris meninggal dunia dengan sangat tragis hanya karena hidungnya mimisan lalu darahnya menyumbat saluran pernapasan.

Robert Ford (47 tahun), seorang tukang kebun di Kent, Inggris baru-baru ini ditemukan tak bernyawa oleh ayahnya, Michael dengan hidung berdarah-darah. Pria ini tidak memiliki riwayat stroke dan serangan jantung, sehingga kematiannya sempat dibilang misterius.

Namun hasil penelusuran menunjukkan, beberapa saat sebelumnya Ford memang mengalami mimisan. Ia mengalami hidung berdarah ketika sedang berjalan-jalan di Gravesend bersama salah seorang temannya, John Churchill namun sama sekali tidak ada yang menduga akibatnya akan fatal.

Ford sempat dibawa ke Gravesend Medical Centre untuk menghentikan perdarahannya, namun hanya diberi es untuk mengompres hidungnya. Hanya berselang beberapa jam, Ford ditemukan sudah tersungkur tidak bernyawa di lantai rumahnya dengan bekas ceceran darah di sekitar hidungnya.

"Kami tidak akan menyalahkan siapapun, kami hanya agak bingung dengan kematiannya. Ada sedikit genangan darah di sekitar mulutnya," kata Michael, ayah Ford seperti dikutip dari Dailymail, Senin (5/12/2011).

Bukan hanya keluarga yang kebingungan, seorang ahli patologi dari Gravesend Medical Centre, Olaf Biedrzycki juga mengaku bingung untuk menjelaskan kejadian ini. Biedrzycki yang sudah 4.000 kali melakukan otopsi jenazah, baru pertama kali ini menemukan orang meninggal karena mimisan.

Menurutnya, dalam banyak kasus mimisan bisa sembuh dengan sendirinya hanya dengan mengompres hidung dengan air dingin. Namun dalam kasus Ford ini, darah terus mengalir dan ketika sudah terlalu banyak darah itu kemudian menyumbat saluran napas.

"Kasus ini sangat aneh, kami tidak tahu persis bagaimana menjelaskannya. Kami sudah berusaha keras mencari penyebabnya namun sampai sekarang belum bisa kami temukan," ujar Dr Biedrzycki di sejumlah media lokal seperti dikutip dari Dailymail.

(up/ir) detikhealth.com

Tulang Buatan Bisa Dicetak dengan Printer 3-Dimensi


Printer tulang (dok: cbsnews)Jakarta, Berbagai kelainan atau kerusakan tulang kini makin mudah diatasi. Para ilmuwan berhasil memodifikasi printer 3-dimensi, agar mampu mencetak tulang buatan untuk mengganti tulang asli yang rusak atau cacat dan tidak mungkin diperbaiki.

Terobosan baru ini diyakini akan sangat berguna bagi para ahli bedah tulang, dokter gigi dan para penderita osteoporosis atau pengeroposan massa tulang. Fungsi utamanya adalah menumbuhkan jaringan tulang buatan, lalu membentuknya semirip mungkin dengan tulang aslinya.

"Dokter bisa mendapatkan bentuk tulang yang diinginkan lewat alat scan biasa, lalu datanya dihubungkan ke printer," kata Prof Susmita Bose dari Washington State University yang menemukan alat tersebut seperti dikutip dari CBS News, Senin (5/12/2011).

Tulang buatan yang dicetak dengan printer ini sudah diujikan pada tikus dan kelinci dan hasilnya dimuat dalam jurnal Dental Materials. Uji coba pada manusia tinggal menunggu waktu, lalu jika berhasil maka dalam beberapa tahun ke depan alat ini mulai bisa dipasarkan.

Cara kerja printer tulang ini pada dasarnya sama seperti printer 3-dimensi yang dipakai untuk mencetak material logam. Hanya saja, 'tintanya' diganti dengan kalsium fosfat seperti pada tulang asli lalu dicampur dengan adonan seng dan silikon.

Bagian penyemprot tinta akan menyemburkan adonan tersebut pada semacam inti sel, yang ukurannya tidak lebih lebar dari sehelai rambut manusia. Semburan itu dilakukan selapis demi selapis hingga mencapai ketebalan tertentu seukuran karet penghapus.

Calon tulang seukuran karet penghapus itu kemudian dikeluarkan dari printer, lalu disimpan dalam kondisi yang sangat terkontrol di laboratorium agar tumbuh seperti tulang asli. Dalam beberapa pekan, tulang buatan yang dicetak dengan printer itu sudah bisa dicangkokkan.

up/ir) detikhealth.com

Bos yang Kasar Bahayakan Rumah Tangga Karyawan


(Foto: thinkstock)Jakarta, Iklim kerja yang baik akan mendukung kesehatan dan produktifitas. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Iklim kerja tersebut dapat berupa tempat kerja, rekan kerja, juga atasan. Sayangnya, atasan yang kasar tidak hanya merusak produktifitas karyawan, tapi juga dapat membahayakan kehidupan keluarga karyawan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Personnel Psychology ini melibatkan 280 orang karyawan dan pasangannya yang menyelesaikan survei secara online.

Peneliti dari Baylor University menemukan bahwa stres dan ketegangan yang dirasakan karyawan karena perilaku bosnya bisa mempengaruhi pasangannya, hubungan karyawan dengan pasangan, dan seluruh keluarga karyawan.

Penyalahgunaan wewenang oleh bos tersebut dapat berupa amukan, perlakuan kasar, kritik di depan publik dan tindakan yang tidak pengertian.

Untungnya, penelitian yang dilansir HealthDay, Minggu (4/12/2011) ini menegaskan bahwa semakin lama hubungan antara karyawan dengan pasangan, efek dari atasan yang kasar tersebut makin berkurang.

Peneliti juga menemukan bahwa punya banyak anak di rumah memberikan kepuasan keluarga yang lebih besar bagi karyawan.

"Temuan ini memiliki implikasi penting untuk organisasi dan manajernya. Bukti ilmiah menyoroti kebutuhan organisasi untuk mengirim pesan yang tegas kepada orang-orang yang menempati posisi sebagai pengawas bahwa perilaku bermusuhan dan berbahaya tidak dapat ditoleransi," kata peneliti, Dawn Carlson, profesor manajemen dan ketua pengembangan organisasi di Sekolah Bisnis Hankamer di Baylor.

"Nampaknya perlakuan kasar dari para pengawas memperbesar ketegangan dalam hubungan karyawan, karyawan jadi kurang termotivasi atau kurang mampu terlibat interaksi positif dengan pasangannya dan anggota keluarga lainnya," imbuh rekan peneliti, Merideth Ferguson, asisten profesor manajemen dan kewirausahaan Baylor University.


ir/ir) detikhealth.com

Sunday, December 18, 2011

Wajah Terbakar Hebat Saat Sedang Jalani Operasi Kista di Kepala


Kim Grice (dok: Dailymail)Florida, Betapa malangnya nasib seorang wanita, saat sedang menjalani operasi biopsi rutin untuk menangani kista di kepalanya, tiba-tiba saja daerah mukanya tersambar sengatan api yang membuat wajahnya terbakar hebat.

Wajah Kim Grice (29 tahun) tiba-tiba saja mengalami kebakaran hebat karena 'flash fire' yang dipicu oleh alat prosedur biopsi kista menyambar bagian mukanya. Saat itu, Grice sedang menjalani operasi rutin karena kista yang ada dikepalanya.

Petugas kebakaran bergegas menuju bangsal bedah di North Okaloosa Medical Centre dan Grice langsung diterbangkan menggunakan helikopter ke unit luka bakar University of South Alabama.





Pejabat di rumah sakit tersebut belum mengungkapkan apa yang menyebabkan api menyambar. Kebakaran biasanya berasal dari peralatan bedah yang menggunakan panas, seperti alat-alat laser dan yang berbahan bakar alkohol dan oksigen.

"Saya menandatangani surat bahwa mereka bisa melakukan apapun yang mereka perlu lakukan dengan operasi rutin, tapi saya tidak menandatangani surat yang membuat wajah anak saya terbakar," ujar Ann, ibunda Grice pada Northwest Florida Daily News seperti dilansir Dailymail, Jumat (2/12/2011).

Ann mengatakan putrinya dirawat di rumah sakit karena memiliki tiga kista yang harus diangkat dari kepalanya. Ia menjalani operasi pada Selasa lalu.

"Dia mengatakan pada saya, saat dia terbangun semua orang di sekitarnya histeris. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Saya masih tidak membiarkannya melihat atau menyentuh wajahnya. Dia adalah gadis yang sangat cantik, anak tunggal saya dan saya tidak punya jawaban untuknya," jelas Ann.

Menurut Ann, mata Grice tampak membengkak. Ia juga merasa mual dan masih tampak shock.

"Dia mengalami sakit kepala dan dokter akan mengeluarkan tiga kista dan biopsi, tetapi operasi berjalan buruk dan putri saya sekarang berada di unit luka bakar dengan spesialis luka bakar dan saya masih tidak tahu apa yang terjadi. Tidak ada yang memberitahu saya, mengapa dan bagaimana hal ini terjadi padanya," tutur Ann.

Dokter mengatakan Grice menderita luka bakar tingkat dua di wajah dan lehernya. Rumah sakit meminta maaf atas insiden tersebut.

"Kami sedang melakukan kajian menyeluruh untuk sepenuhnya memahami apakah yang terjadi, untuk mencegah peristiwa seperti itu dari terjadi lagi," kata seorang juru bicara rumah sakit.

Menurut Mark Bruley, wakil presiden untuk kecelakaan dan penyelidikan forensik di konsultasi kesehatan, ECRI Institute, mengatakan ada sekitar 550 hingga 650 tahun kebakaran bedah, meskipun kurang dari 30 kasus yang mengakibatkan pasien cedera.mer/ir) detikhealth.com

Air Berlimpah Tak Ada Artinya Kalau Perilakunya Belum Sehat


Ilustrasi (foto: Thinkstock)Jakarta, Ketersediaan air bersih masih menjadi masalah di banyak wilayah di Indonesia. Namun ada beberapa wilayah seperti Nusa tenggara Timur, yang air bersihnya berlimpah namun perilakunya belum sehat termasuk masih buang air besar sembarangan.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, jumlah keluarga yang memiliki akses air berkualitas di Indonesia tercatat masih rendah yakni 67,5 persen. Target yang dipatok Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk 2014 cukup tinggi, yakni 100 persen.

Namun di beberapa wilayah, akses keluarga terhadap air yang berkualitas sudah di atas rata-rata nasional. Direktur Penyehatan Lingkungan Kemenkes, Dr drh Wilfried Hasiholan Purba, MM, Mkes mencontohkan, Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah mencapai 75 persen.

Sayangnya jika dibandingkan dengan perilaku dan fasilitas sanitasi yang ada, ketersediaan air bersih itu jadi terkesan sia-sia. Dibandingkan wilayah lain di Indonesia, perilaku buang air besar (BAB) sembarangan di wilayah ini masih termasuk paling tinggi.

"Air bersih di NTT berlimpah, mungkin karena banyak proyek pipa air minum. Tapi sayangnya masih banyak yang open defecation (BAB di tempat terbuka), yang advanced dalam arti memiliki septic tank tidak banyak," kata drh Wilfried dalam jumpa pers di Kemenkes, Jumat (2/12/2011).

Kondisi sebaliknya terjadi di DKI Jakarta, yang memiliki lebih banyak fasilitas untuk BAB dengan lebih sehat. Meski warga yang menggunakan septic tank jumlahnya lebih banyak dibanding NTT, ketersediaan air bersih yang berkualitas justru lebih rendah di tempat ini.

Menurut drh Wilfried, salah satu faktor penyebabnya adalah kepadatan penduduk yang terlalu tinggi di Jakarta. Karena jarak antara rumah berdekatan, maka jarak antara sumur atau sumber air terlalu dekat dengan septic tank sehingga tercemar.

Adanya pencemaran dari septic tank ditunjukkan dengan adanya cemaran Escherichia coli di beberapa sampel bersih di Jakarta. Selain bakteri E.coli, kontaminasi lain yang sering ditemukan dalam air terutama air ledeng adalah pencemaran zat besi.

up/ir) detikhealth.com

Saturday, December 17, 2011

Menyibukkan Diri Bisa Perpanjang Usia Pria


(Foto: thinkstock)Jakarta, Sudah lama diketahui bahwa laki-laki merasa aman jika melakukan segala sesuatunya sendirian, sekedar menyibukkan diri, atau hanya ingin merasa damai dan tenang dari kebisingan keluarga.

Tapi sekarang tampaknya gudang memiliki peran yang lebih penting, yaitu bisa membantu pria hidup lebih lama. Melakukan hal-hal yang nampak tidak ada tujuannya nampaknya memiliki menfaat kesehatan, sebagai pekerjaan sambilan yang dapat mengurangi stres, menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan harga diri pria.

Alan White, profesor kesehatan dari Leeds Metropolitan University, percaya bahwa efek tersebut dapat memperpanjang usia manusia. Menurutnya penelitiannya yang diterbitkan dalam British Medical Journal, pria yang santai dan melakukan banyak hal secara mandiri baik untuk kesehatannya.

"Ada rasa pencapaian yang didapatkan pria dari mulai melakukan pekerjaannya dan melihatnya sampai selesai. Ini baik untuk meningkatkan harga diri pria," kata Prof. White seperti dilansir DailyMail, Jumat (2/12/2011).

Para ahli kesehatan sangat yakin akan manfaat trend komunitas pria yang menamakan dirinya "men's shed" atau pria gudang ini. Komunitas ini awalnya berasal dari Australia dan makin banyak bermunculan di Inggris di mana para anggotanya dapat bertemu dan melanjutkan kegiatan yang berfokus dengan kegiatan "Do It Yourself", yaitu kegiatan melakukan segala sesuatunya dengan mandiri seperti; membetulkan pemotong rumput sendiri, berkebun, atau sekedar menyibukkan diri.

Di Inggris, sudah ada 20 komintas "Men's Shed", kebanyakan anggotanya adalah para pensiunan dari seluruh negeri. Profesor White percaya bahwa pria merasa nyaman dalam gudangnya lebih cenderung memperhatikan kesehatannya di rumah.


ir/ir) detikhealth.com

Friday, December 16, 2011

Ciri HIV Paling Khas: Diare, Sariawan, Berat Badan Turun


Ilustrasi (foto: Thinkstock)Jakarta, Infeksi Human Imunodeficiency Virus (HIV) seringkali tidak disadari sebelum pengidapnya melakukan tes darah. Namun ada beberapa gejala khas yang mencirikan infeksi tersebut, antara lain diare kronis, sariawan dan berat badan turun.

Dalam banyak kasus, infeksi HIV baru diketahui ketika sudah muncul infeksi penyerta atau oportunistik. Infeksi oportunistik yang sering dialami pengidap HIV antara lain Tuberculosisi (TBC) paru, TBC ekstra pulmonari, pneumonia dan candidiasis oral atau sariawan.

Namun sebelum berbagai infeksi penyerta itu mucnul, dokter sudah bisa mencurigai seorang pasien mengidap HIV jika menunjukkan beberapa gejala yang paling khas. Gejala paling khas tersebut adalah diare kronis, sariawan dan berat badan turun drastis.

"Kalau ada pasien datang dengan semua gejala itu, dokter bisa curiga pasien tersebut adalah pengidap HIV," kata Dr H Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP dari Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dalam jumpa pers di Restoran Munik Matraman, Kamis (1/12/2011).

Meski boleh curiga, dokter tetap tidak boleh memberikan perlakuan diskriminatif terhadap pasien tersebut. Perlakuan diskriminatif terhadap pasien HIV biasanya terjadi karena kurangnya wawasan para dokter atau tenaga kesehatan tentang virus tersebut.

Ketika mendapati pasien yang dicurigai HIV positif, Dr Ari hanya prihatin karena jika sampai menunjukkan gejala maka infeksi tersebut pasti sudah berlangsung lama dan mungkin tidak ketahuan. Padahal jika terdeteksi sejak dini, pengobatannya tentu akan lebih mudah.

Dalam jumpa pers tersebut, Dr Ari juga mengumumkan bahwa saat ini PAPDI telah menyusun Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) HIV/AIDS. Pedoman yang akan segera diresmikan dan ditandatangani oleh Menteri Kesehatan itu berisi 72 rekomendasi terkait diagnosis, deteksi dini, pencegahan dan pengobatan infeksi HIV.


up/ir) detikhealth.com

Palm-sized preemie almost ready to go home

At birth, Melinda Star Guido was so tiny she could fit into the palm of her doctor's hand. Weighing just 9 1/2 ounces, she is among the smallest babies ever born in the world. Most infants her size don't survive, but doctors are preparing to send her home by New Year's.

Melinda was born premature at 24 weeks over the summer and spent the early months cocooned in an incubator in the neonatal intensive care unit in Southern California. Almost every day, her 22-year-old mother sits at her bedside and stays overnight whenever she can.

The day before her Thursday due date, Haydee Ibarra visited Los Angeles County-USC Medical Center where her daughter has been since her birth in late August. Melinda is believed to be the second smallest baby to survive in the U.S. and third in the world.

Ibarra caressed Melinda through the portholes of the incubator where nurses pinned up a homemade sign bearing her name. Now weighing four pounds, Melinda gripped Ibarra's pinky finger and yawned.

"Melinda, Melinda," she cooed at her daughter dressed in a polka dot onesie. "You're awake today."

During her pregnancy, Ibarra suffered from high blood pressure, which can be dangerous for both mother and fetus. She was transferred from a hospital near her San Fernando Valley home to the county's flagship hospital, which was better equipped to handle high-risk pregnancies.

Photos of baby Melinda at birth and at 14 weeks

There was a problem with the placenta, the organ that nourishes the developing fetus. The fetus, however, was not getting proper nutrition, blood and oxygen. Doctors knew Melinda would weigh less than a pound, but they were surprised at how small and fragile she was.

"The first few weeks, it was touch and go. None of us thought the baby was going to make it," said Dr. Rangasamy Ramanathan, who oversees premature infants.

Even if she survived, doctors told Ibarra and her husband Yovani Guido, children born this extremely premature can have developmental delays and impairments such as blindness, deafness or cerebral palsy.

Ibarra, who previously had a stillborn, told doctors to do whatever necessary to help her baby.

"They said, 'We'll take the chance. Please try.' So we said. 'OK we'll try,'" Ramanathan recalled.

Melinda was delivered by cesarean section at 24 weeks and was immediately transferred to the NICU where a team of doctors and nurses kept watch around the clock. Infants born before 37 weeks are considered premature.

Melinda was kept insulated in an incubator and was hooked up to a machine to aid her breathing. She got nutrition through a feeding tube. Her mother said her skin felt like plastic because it was so thin.

"It takes a lot of good care and a lot of good luck. Most of them don't survive," said pediatrician Dr. Edward Bell of the University of Iowa who keeps an online database of the world's smallest surviving babies who were less than a pound at birth.

The list currently contains 126 babies dating back to 1936. Since submission is voluntary, it does not represent all survivors.

Ten babies weighing less than a pound were born last year and survived. Melinda joins three other tiny survivors delivered this year in Berkeley; Seoul, South Korea; and Iowa City, Iowa. All are bigger than Melinda, who is not eligible to be listed until she gets discharged.

Most tiny babies who survive tend to be female. That's because female fetuses mature faster than males of the same gestational age. Having more developed lungs and other vital organs increases odds of survival.

Bell published a study last year that found many survivors struggle with health and learning problems. For those for whom growth data are available, many are short and underweight for their age.

There are some success stories.

The smallest surviving baby born weighing 9.2 ounces is now a healthy 7-year-old and another who weighed 9.9 ounces at birth is an honors college student studying psychology. Their progress was detailed in a study published this week in the journal Pediatrics by doctors at Loyola University Medical Center in Illinois where the girls were born.

In the past three years, Los Angeles County-USC Medical Center treated two other babies with extremely low birth weight who survived, but Melinda holds the record at the hospital.

A month after she was born, she was treated for an eye disorder that's common in premature babies. She faced her biggest test last month when she underwent surgery to close an artery that usually seals after birth.

Ybarra held Melinda for the first time after the surgery. Before that, she could only touch her through the incubator. The next challenge is learning to bottle feed before discharge. Ramanathan predicted at least another two-week stay, dashing her parents' hopes of taking her home by Christmas.

Ramanathan said it's too early to know how Melinda will fare when she grows up. Since she did not have major complications such as bleeding in the brain, he held out hope.

Melinda can breathe by herself, but still uses an oxygen tube as a precaution. On Wednesday, an ophthalmologist checked out her eyes and said everything looked good.

After the checkup, Ibarra lifted Melinda out of the incubator and sat in a rocking chair, cradling her.

Discussion comments

Thursday, December 15, 2011

Pengobatan Baru untuk Eksim Karena Jamur Ditemukan


(Foto: thinkstock)Stockholm, Swedia, Eksim atopik adalah peradangan ringan sampai parah di kulit yang ditandai dengan kulit kering, kulit gatal dan bersisik yang biasanya dimulai pada anak usia dini. Meskipun bisa hilang sendiri tapi banyak yang menderitanya sampai seumur hidup. Kini pengobatan baru telah ditemukan.

Para ilmuwan di Swedia telah menemukan peptida tertentu untuk membunuh jamur Malassezia sympodialis yang dapat memicu gangguan kulit seperti eksim atopik, eksim seboroik dan ketombe, tanpa mengganggu sel-sel kulit yang sehat.

Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperjelas mekanisme yang mendasari. Para peneliti berharap penemuan ini akan mengarah pada pengobatan baru untuk kondisi gangguan pada kulit.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Tina Holm dan rekannya dari Stockholm University dan Karolinska Institute, dan telah dipublikasikan secara online dalam Journal Letters in Applied Microbiology edisi 21 November 2011.

"Banyak hal yang masih harus diteliti sebelum peptida dapat digunakan pada manusia. Namun, kombinasi menarik dari obat ini dapat menjadi racun bagi jamur pada konsentrasi rendah. Sehingga membuat obat ini sangat menjanjikan sebagai agen antijamur. Kami berharap bahwa peptida di masa depan dapat digunakan untuk meringankan gejala pasien yang menderita eksim atopik dan secara signifikan meningkatkan kualitas hidup mereka," kata Holm seperti dilansir dari MedicalNewsToday, Kamis (1/12/2011).

Holm dan koleganya meneliti kemampuan yang berbeda dari 21 peptida antimikroba dan sel penetrasi peptida untuk menghambat pertumbuhan M sympodialis. Peptida adalah seperti mini protein, peptida dapat dibuat dari blok bangunan yang sama, tetapi jauh lebih pendek.

Peptida antimikroba (AMP) adalah antibiotik alami yang membunuh berbagai jenis mikroorganisme, termasuk jamur, bakteri, jamur dan virus tertentu. Sel penetrasi peptida (CPP) sering diselidiki oleh perusahaan obat dalam rangka mencari cara baru untuk memberikan obat karena CPP dapat menyeberangi membran sel, meskipun mekanismenya tidak jelas.

Para peneliti menambahkan peptida dengan koloni terpisah dari M sympodialis di piring petri untuk menilai aktivitas antijamurnya. Para peneliti juga mengamati reaksi peptida pada sel-sel kulit manusia atau keratinosit untuk menilai setiap potensi kerusakan. Para peneliti menemukan bahwa, 6 dari 21 peptida berhasil membunuh jamur tanpa merusak membran dari keratinosit. Enam peptida tersebut terdiri dari 5 CPP dan 1 AMP.

Para peneliti menyimpulkan bahwa penelitian tersebut adalah pertama kalinya yang mengidentifikasi peptida sebagai agen antijamur terhadap M sympodialis. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat menjelaskan mekanisme tersebut.

mer/ir) detikhealth.com

Sagging face final hurdle after shedding 240 pounds

Back when he weighed 420 pounds, Paul Brian thought losing the weight would be the hard part.

But after shedding 240 pounds with the help of bariatric surgery six years ago, the Chicago radio announcer and PR man found that reducing his girth by half spawned new problems.

It wasn’t just the extra skin left behind on his torso and legs. Like most morbidly obese people, Brian expected to undergo so-called “body contouring” to remove that excess flesh.

What he didn’t expect, however, was to wind up with a face and neck so disfigured by sagging wrinkles and flaccid muscles that plastic surgery seemed the only option.

“You’re so overwhelmed with the joy of losing the weight, but there’s this point of realization,” Brian says. “You look in the mirror and you say, oh, that’s not good.”

Brian, 60, is among a little-known group of bariatric patients who require facial restructuring in the wake of massive weight reduction.

Many people who lose lots of weight adjust gradually when it comes to their faces, said Dr. Malcolm Z. Roth, president of the American Society of Plastic Surgeons and chief of plastic surgery at Albany Medical Center in New York.

“The skin tends to re-drape more favorably in the face and neck than it does in other parts of the body,” he said.

In other cases though, substantial weight loss leaves formerly fat people with under-eye bags, slack jaws and so many wrinkles that it led one online patient to comment: “I looked like everything had melted.”

ASPS figures show that member surgeons performed nearly 53,000 body contouring operations â€" reshaping of breasts, arms, thighs and stomachs â€" after patient weight loss in 2010. Overall, nearly 200,000 people each year undergo bariatric surgery, according to the American Society for Metabolic and Bariatric Surgery.

But there are no similar statistics for people who needed facial plastic surgery after losing weight as well. It’s less common than body surgery, Roth says, partly because some faces adjust better  â€" and partly because while insurers often balk at paying for body contouring, they’re even less likely to cover costs above the neck, says Roth. The financial reality of a $20,000 bill can be a deal-breaker.

“For the face, it’s going to be an uphill battle,” Roth says. “There are plenty of people walking around with loose necks and they didn’t have massive weight loss and they want a face lift.”

Brian says he’s been fighting the battle for facial surgery for years, ever since he finished losing weight after a 2006 duodenal switch, a rare form of bariatric surgery.

Heft jowls, extra neck skin â€" and drool
The huge weight loss reduced his neck from 22 inches to 16 inches â€" and left him with hefty jowls and a wattle of flesh under his chin, all so heavy that they interfere with his speech and his hygiene, his doctor says.

“What’s happening is his neck is so large because of the extra skin,” says Dr. Lawrence S. Zachary, an associate professor of surgery at the University of Chicago Medical Center, who performed Brian's body lift. “The muscles are pulling things down, making it hard for him to talk without drooling.”

Indeed, Brian says he has to keep a handkerchief available at all times and must sleep with his head face-up and completely square on his pillow to keep from soaking the bedding.

“You just don’t know how this affects me,” he says.

Brian would like to get the problem fixed, but after paying out of pocket for most of the costs of the $40,000 weight-loss surgery, and for $30,000 in reconstructive surgery for his body, he can’t afford the additional $20,000 or so it would take to do his face.

He has submitted the bills to Blue Cross/Blue Shield of Illinois, the company that insures his employer, the Chicago Automobile Trade Association, which puts on the Chicago Auto Show. But he’s been rejected several times, essentially because the procedure is regarded as cosmetic, his records show.

Brian and his doctors argue that in his case, vanity takes a back seat to function. Brian is a radio announcer who hosts a weekly automotive show and a public relations representative whose livelihood depends on lots of talk.

“He’s having a hard time maintaining the competence of his mouth because of the pull,” says Zachary. “It’s medically necessary surgery.”

A representative for Blue Cross/Blue Shield did not immediately respond about Brian’s specific case, but many insurers routinely decline to pay for weight loss surgery itself, let alone operations to remove extra skin afterward. Brian has appealed the decision several times and plans to do so again.

Losing such a substantial amount of weight was nothing less than life-saving â€" and life-changing, Brian says. And now he just wants to finish the job.

"If history has taught me anything, you don't give up hope," he says. "Somewhere, somehow, a solution will occur."

Reprints

Discussion comments

Wednesday, December 14, 2011

Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Terbanyak di Jakarta Pusat & Selatan


(Foto: thinkstock)Jakarta, Saat ini jumlah rumah sakit di Jakarta terbilang cukup banyak, namun ternyata belum merata. Diketahui jumlah tempat tidur yang dimiliki oleh rumah sakit paling banyak di daerah pusat dan selatan padahal jumlah penduduk paling banyak di timur dan barat.

"Pertumbuhan rumah sakit cukup pesat tapi jumlah tempat tidur lebih terpusat di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan," ujar Dr H Muki Reksoprodjo, SpOG selaku Ketua Persi dalam acara peluncuran Phillips The '+' Project di Hotel Shangrila, Jakarta, Selasa (29/11/2011).

Dr Muki mengungkapkan data rumah sakit yang dimiliki di tiap-tiap daerah Jakarta yaitu:

Jakarta Pusat
Jumlah penduduk 899.515 Jumlah rumah sakit umum 15 Jumlah rumah sakit spesialis 15 Jumlah tempat tidur 5.018
Jakarta Barat
Jumlah penduduk 2.281.945 Jumlah rumah sakit umum 11 Jumlah rumah sakit spesialis 11 Jumlah tempat tidur 4.505
Jakarta Timur
Jumlah penduduk 2.693.896 Jumlah rumah sakit umum 22 Jumlah rumah sakit spesialis 15 Jumlah tempat tidur 4.412
Jakarta Utara
Jumlah penduduk 1.645.659 Jumlah rumah sakit umum 14 Jumlah rumah sakit spesialis 6 Jumlah tempat tidur 2.284
Jakarta Selatan
Jumlah penduduk 2.062.232 Jumlah rumah sakit umum 23 Jumlah rumah sakit spesialis 20 Jumlah tempat tidur 4.505
Berdasarkan data ini menunjukkan bahwa daerah Jakarta Timur yang memiliki jumlah penduduk paling banyak tapi jumlah tempat tidur di rumah sakit yang paling banyak dimiliki oleh Jakarta Pusat yang mana penduduknya paling sedikit.

Selain itu Dr Muki menuturkan sebagian besar masyrakat memilih untuk pergi ke dokter atau rumah sakit ketika kondisinya sudah benar-benar parah, tapi jika hanya mengalami demam atau rasa tidak nyaman saja lebih sering diabaikan atau menggunakan pengobatan herbal seperti jamu.

Hal lain yang menjadi masalah atau dipertanyakan oleh masyarakat adalah mahalnya biaya kesehatan di rumah sakit swasta dibandingkan dengan rumah sakit pemerintah.

"Kalau rumah sakit swasta harus membeli atau menyewa tanah, bangun rumah sakitnya lalu membeli peralatan untuk fasilitas, ini yang bikin rumah sakit swasta lebih mahal," ujar Dr Muki.

Untuk itu dibutuhkan adanya perbaikan dalam sistem pelayanan yang ada agar semua masyarakat dapat mudah mengakses layanan kesehatan, sehingga bisa meningkatkan kualitas hidupnya menjadi lebih baik.


ver/ir) detikhealth.com

11 fast fixes for instant energy

Having a low-energy day? Sometimes the problem is lack of sleep. But even if you're well rested, certain diet or exercise habits or other lifestyle choices can bring on a slump. And surprisingly little thingsâ€"like the size of your Starbucks order or how you decorate your officeâ€"can hurt or help your energy levels. Make some of these tweaks to recharge your batteries and power through your day.

The Secrets To All-Day Energy

1. Have bran for breakfast
Eating a morning meal rich in fiber may make you more alert during the day. A Cardiff University study found that subjects who ate a high-fiber cereal in the morning showed a 10% reduction in fatigue, lower incidence of depression, and better cognitive skills.

One theory: Fiber helps slow down the absorption of food in the stomach, which keeps your blood sugar levels steady to sustain energy levels for a longer period of time.

13 Breakfasts that boost all-day energy

2. Order a small latteâ€"and sip it slowly
Experts say it's best not to rely too heavily on caffeine, but if you're an unapologetic java junkie, try spreading your intake out more evenly over the day. Mini servings of caffeine (8 ounces of coffee or less) every few hours keep you awake, alert, and focused for longer than a single jumbo one would, according to sleep experts.

"When you quickly drink a large coffee, the caffeine peaks in your bloodstream much sooner than if you spread it out over time," says Harris R. Lieberman, PhD, a research psychologist with the US Army Research Institute of Environmental Medicine.

3. Eat more often
Following a strict three-square-meals-a-day plan may be sapping your vigor. "Eating small meals frequently throughout the dayâ€"every 3 to 4 hoursâ€"helps keep your blood sugar up, so you don't experience energy crashes or get so ravenous that you overeat," explains Kathy McManus, RD, director of the Department of Nutrition at Brigham and Women's Hospital in Boston. Each meal should have some carbohydrates, protein, and healthy monounsaturated fat, like a salad topped with 4 ounces of chicken and drizzled with olive oil.

4. Plop a plant in your office
Flexing your green thumb may help fend off an afternoon slump. Texas A&M researchers found that volunteers who kept a vase of vibrant flowers on their desks, along with green plants elsewhere in the office, generated more creative ideas than those in a vegetation-free setting.

In a separate study, Kansas State University researchers used brain scans to analyze 90 male and female typists; some tapped keys next to plants, while others worked at bare desks. The result: Women exposed to flowers were less stressed. (Oddly, men didn't experience the same benefits.) Look for hybrid varieties of azaleas, cyclamen, and kalanchoe, which flourish in small pots. While you're at it, add a few dracaenas, an easy-to-care-for floor plant, to accent empty corners.

10 Silent signals you're more stressed than you think

5. Gulp some water
"Half of the people who come to me complaining of fatigue are actually dehydrated," says Woodson Merrell, MD, executive director of the Continuum Center for Health and Healing at Beth Israel Medical Center in New York City.

Staying hydrated is one of the simplest ways to keep energized and focused. A recent study of athletes found that 92% felt fatigued after limiting fluids and water-rich foods for 15 hours; they also had lapses in memory and reported difficulty concentrating. Aim to drink every hour or two so you don't feel thirsty.

6. Or steep a cup of tea
A recent report found that pairing caffeine and the amino acid L-theanine, both present in tea, decreased mental fatigue and improved alertness, reaction time, and memory. What's more, black varieties can help you recover from stress, according to researchers at University College London. In their study, adults who drank tea four times a day for 6 weeks had lower levels of the stress hormone cortisol after a tense moment, compared with those who drank a tealike placebo.

 / 

100 Ways to get better sleep

7. Take a 10-minute walk
A short stroll can invigorate the rest of your day, suggests research presented to the American Heart Association. Women who walked briskly for 70 minutes a week (or 10 a day) reported 18% more energy than their sedentary peers after 6 months. They also felt more clearheaded and confident, had fewer aches, and hoisted groceries and climbed stairs more easily.

8. Copy your kid's lunch
...If it's a banana and peanut butter sandwich. Bananas pack potassium, a mineral your body needs to convert sugar in your blood into energy, says energy expert Susan Lark, MD, author of The Chemistry of Success: Six Secrets of Peak Performance. The peanut butter is high in magnesium, which gives your cells much-needed energy. Aim for 320 mg of magnesium and 4,700 mg of potassium daily. Other good sources of potassium and magnesium: fruits, vegetables, beans, and nuts.

9. Cue up your iPod
Feeling dazed at your desk? Consider listening to music while you work. One study found that employees who donned headphones while they worked were 10% more productive than without them.

10. Try a natural cure
The herb rhodiola, available in health food stores, may increase brain chemicals that stimulate your central nervous system and increase alertness. One Russian study found that people who took rhodiola reported higher levels of physical fitness, better coordination, and less mental fatigue. Try 100 mg twice a day.

19 Bizarre natural home cures that really work

11. Order the seaweed salad
If your go-to Japanese appetizer is miso soup or edamame, consider rotating seaweed salad into the mix. It's packed with iodine, a chemical that helps maintain sufficient levels of the thyroid hormones that regulate your weight, energy level, and moodâ€"and a new study finds you may not be getting enough of it. We tend to get our biggest dose of iodine from table salt, but among 88 randomized samples of common iodized salt brands, 47 didn't contain the FDA's recommended iodine concentration, say scientists from the University of Texas at Arlington.

Adults should get 150 mcg of iodine daily (220 mcg if you're pregnant, 290 mcg if breastfeeding). Iffy on the seaweed? Other food sources include fish and yogurt.

Discussion comments

Tuesday, December 13, 2011

Michelle Duggar, mom of 19, miscarries

Michelle Duggar, the famous reality show mom of 19, has miscarried her child.

“I feel like my heart broke telling my children,” Michelle told People magazine. The Duggars announced their pregnancy publicly last month on TODAY.

Michelle and her husband, Jim Bob, were hoping to find out the gender of their unborn child during a routine ultrasound on Thursday; but their doctor was unable to find a heartbeat. Michelle was 19 weeks along, in her second trimester.

Earlier story: The Duggars announce they're expecting a 20th child

"We discovered during a routine 19-week ultrasound that our 20th child, who was due in April 2012, passed away recently," Jim Bob Duggar wrote in a letter he provided to TODAY.com "We would like to thank everyone for their prayers, emails and outpouring of love... As our whole family is grieving, we also know that God promises to work all things for good in our lives."

Read Jim Bob's letter to friends and fans

“After the appointment, we came back home and told the children," Michelle, 45, told People. "We had just been talking about baby names last night and they were getting excited about naming a boy or a girl. It has been a real sad disappointment."

On her doctor's advice, Michelle said she plans to let the miscarriage happen naturally. Other options would be taking drugs to bring on contractions or having surgery. Michelle told People because of the cut to her uterus during the emergency C-section for her last child, her doctor said letting her body miscarry naturally would be the safest way to go.

"I am resting and I have felt good physically, which is strange," Michelle told People magazine. She said as recently as Nov. 25 her daughter Jill, 20, who is studying to be a midwife, listened to the baby's heartbeat.

On Dec. 3, she said, "I felt a little uncomfortable but I thought it was just something I'd eaten. It could have been the beginning of something going wrong."

"The kids are mothering me now," Michelle told People. "Jill just brought me some food and they are taking good care of me."

The Duggars plan to name the baby, once they find out if it was a boy or a girl, and then they’ll have a funeral service.

“The Lord is the giver of life and he can choose when that life is ready to go on and be with Him," Michelle Duggar told People magazine.

Related: Is it safe to have 20 children?

Between 20 to 30 percent of all pregnancies end in miscarriage. Dr. Rebecca Brightman, an OB-GYN at Mount Sinai hospital in New York, told TODAY's Ann Curry that Michelle Duggar was at increased risk because of her age -- women over 40 are more likely to have babies with chromosomal abnormalities, and that's a leading factor in miscarriage.

"Women, particularly as they get older, are at increased risk of having certain complications in pregnancy," Brightman explained on TODAY. "It’s something to think about â€" clearly her pregnancies are at increased risk, and she wants to be there for her kids at home."

TODAY Moms: What to say to a woman after a miscarriage

But, Brightman said, the fact that Duggar has had 19 previous children did not put her at higher risk for a miscarriage.

The Duggars star on the TLC reality series "19 Kids and Counting," which chronicled the difficulties of Michelle Duggar’s last pregnancy with Josie, now 2 years old. Michelle suffered from gall-bladder problems as well as preeclampsia. In order to save her life, doctors delivered daughter Josie three and a half months prematurely â€" she weighed only one pound, six ounces at birth, and endured a series of health emergencies, including a perforated bowel. Josie eventually went home with the rest of the Duggar family, and is now a healthy toddler who celebrated her second birthday in December.

In an interview with TODAY last summer, Michelle Duggar acknowledged the struggles of the 19th pregnancy, but said she would welcome more children. “The precious life that we see here is not a coincidence,” she said, referring to her youngest daughter Josie. “I just know that it is a miracle. I don’t take that for granted. I know that God is the one who gives life, and I’m just so grateful and thankful. We would welcome another if He saw fit, but we’ll wait and see.”

The Duggars also suffered a miscarriage with their second pregnancy. Originally, they planned to have only one to three children, and Michelle took birth control pills. But the miscarriage led them to believe they should eschew birth control.

The couple felt "devastated" by their first miscarriage, they wrote in their recently published book, "A Love That Multiplies":

"At that point we read in Scripture that children are a blessing from the Lord and a gift from Him. We asked God to forgive us for taking matters in to our own hands and to give us a love for children like His love for them. We committed to letting Him decide how many children we would have and when they would be born," the Duggars wrote.

Reprints

Monday, December 12, 2011

Meninggal Karena Perut Infeksi Menelan 431 Keping Uang Logam


Kamleshwar Singh (dok. dailymail)Chharrisgarh, India, Seorang laki-laki di India memiliki perut seperti celengan, karena berisi 431 keping uang logam serta baut seberat 6 kg. Sayangnya ketika logam-logam itu dikeluarkan, perutnya sudah terlanjur infeksi dan nyawanya tidak tertolong lagi.

Kamleshwar Singh, seorang petani India dari negara bagian Chharrisgarh awalnya hanya mengeluh sakit perut. Namun rasa nyeri di perutnya itu kian hari kian parah, sehingga istrinya membawa laki-laki malang ini ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.

Hasil pemindaian dengan sinar-X di Shreesti Institute of Medical Science and Research Centre menunjukkan hasil yang mengejutkan. Di dalam perut Singh, dokter menemukan 3 keping anak kunci, 431 keping uang logam, 196 pelat besi dan 17 baut dari logam.
 

 
Lewat operasi bedah perut, tim dokter yang dipimpin oleh Dr Yadav berhasil mengeluarkan logam-logam tersebut. Namun sayang, perutnya telah mengalami perlukaan atau ulserasi kronis sehingga nyawanya tidak tertolong lagi sesaat setelah dioperasi.

"Benda-benda logam sebanyak itu kami temukan di dasar perutnya. Di awal operasi kami pikir tidak seberapa banyak, tapi ternyata sangat banyak. Sudah ada tanda-tanda ulserasi kronis di dalam perut Singh," kata Dr Yadav seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (29/11/2011).

Diyakini, kebiasaan menelan benda-benda dari logam ini tidak diketahui oleh keluarga dan bahkan istrinya sendiri. Istrinya baru mulai curiga setelah Singh mengalami susah tidur dalam 4 pekan terakhir dan selalu mengeluhkan rasa sakit di perutnya.

Sementara para dokter menduga, Singh mengidap gangguan jiwa schizophrenia sehingga nekat melakukan hal-hal yang tidak masuk akal termasuk makan uang logam. Selain itu, diduga Singh juga mengidap gangguan pola makan yang disebut Pica sehingga senang memasukkan benda-benda selain makanan ke perutnya.up/ir) detikhealth.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | fantastic sams coupons