-
-

Monday, June 27, 2011

Hidup di Kota Besar Buruk Buat Kesehatan Mental


(Foto: thinkstock)Jakarta, Penduduk kota atau orang yang dibesarkan di daerah perkotaan memiliki otak yang bereaksi lebih keras terhadap stres. Otak yang terus menerus stres ini bisa mengganggu kesehatan mental termasuk bisa meningkatkan risiko skizofrenia (gangguan otak yang sering bikin halusinasi).

Berdasarkan pemeriksaan scan yang dilakukan oleh para peneliti diketahui bahwa penduduk kota atau orang yang dibesarkan di daerah perkotaan memiliki otak yang bereaksi lebih keras terhadap stres.

Peneliti mengungkapkan bahwa hal ini membantu menjelaskan penyebab kehidupan kota yang dapat meningkatkan risiko skizofrenia dan juga gangguan mental lainnya, dibandingkan dengan orang yang tinggal di pedesaan.

Pada penelitian sebelumnya telah ditemukan bahwa tumbuh di kota besar bisa meningkatkan risiko skizofrenia, dan beberapa bukti menunjukkan penduduk kota berisiko tinggi mengalami gangguan suasana hati (mood) dan kecemasan.

Dalam sebuah studi awal yang melibatkan 32 partisipan, peneliti menemukan perbedaan di dua daerah otak yaitu amygdala yang akan bereaksi terhadap adanya ancaman dalam lingkungannya, serta circuitry yang berfungsi mengatur amygdala.

Para peneliti menemukan sukarelawan yang hidup di kota menunjukkan aktivasi amygdala yang lebih tinggi dibandingkan dengan aktivasi amygdala orang yang hidup di daerah pedesaan.

"Studi ini tidak bisa mengungkapkan dengan pasti mengapa kehidupan kota akan meningkatkan respons otak, tapi bisa jadi karena stres yang dialami saat berhubungan dengan orang lain turut mempengaruhi respons otak," ujar Dr Andreas Meyer Lindenberg, selaku direktur Central Institute of Mental Health di Mannheim, Jerman, seperti dikutip dari Suntimes, Senin (27/6/2011).

Selain itu hidup di kota besar tak bisa lepas dari masalah kemacetan yang nantinya bisa memicu terjadinya traffic stress syndrom atau TSS (sindrom stres akibat macet). Kondisi ini tentu saja akan mempengaruhi kesehatan mentalnya.

Tingkat stres yang terus menerus diketahui bisa memiliki efek buruk bagi tubuh dan kesehatan. Dr Lindenberg menuturkan bahwa pada studi hewan diketahui paparan stres yang terlalu dini dan terus menerus bisa menyababkan dampak yang jangka panjang.

ver/ir)



detikhealth.com

-

0 komentar:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | fantastic sams coupons