-
-

Monday, June 13, 2011

Jakarta & Surabaya, Daerah Penyebar Pertama Demam Berdarah


(Foto: thinkstock)Jakarta, Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang sudah lama ada di Indonesia. Ternyata penyakit ini pertama kali teridentifikasi pada tahun 1968 di Jakarta dan Surabaya.

"DBD adalah masalah yang cukup lama, di Indonesia kasus pertama kalinya terjadi tahun 1968 yang ditemukan di Jakarta dan Surabaya," ujar Menkes, dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DrPH saat membuka ASEAN Dengue Conference di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Senin (13/6/2011).

Menkes mengungkapkan pada saat itu ada sekitar 50-an kasus dan setengahnya meninggal karena termasuk penyakit baru. Setelah 40 tahun lebih pencarian vaksin untuk penyakit ini terbilang cukup lama.

"Penyakit ini disebabkan oleh virus yang dibawa oleh vektor dalam hal ini nyamuk. Kalau penyakit disebabkan oleh vektor biasanya sulit untuk dikendalikan karena susahnya mengendalikan tempat perindukannya," ujar Menkes.

DBD di Indonesia sulit diberantas karena laju perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang menularkan penyakit itu cukup cepat. Upaya pemberantasan jentik nyamuk selalu kalah cepat dari perkembangbiakan nyamuk tersebut.

Di lingkungan yang berair, 1 ekor nyamuk rata-rata bertelur sebanyak 50-400 butir dan hanya butuh 1 minggu untuk menjadi nyamuk baru. Jika diambil angka terkecil, dalam seminggu selalu ada 50 ekor nyamuk baru yang pada minggu berikutnya menghasilkan 250 nyamuk lain lagi.

Saat ini jumlah pasien DBD yang meninggal kurang dari 1 persen, tapi tetap saja orang yang terkena DBD bisa mendapatkan kerugian seperti tidak bisa masuk kerja, sekolah atau mengganggu aktivitasnya.

"Untuk itu dilakukan program pengendalian vektor salah satunya dengan 3M plus, saat ini kami tengah berusaha menghidupkan kembali gerakan 3M plus," ungkap Menkes.

Dan saat ini Indonesia tengah melakukan uji klinis di beberapa daerah terhadap vaksin DBD. Diharapkan kalau sudah ada vaksin, meskipun nyamuknya masih ada tapi orang yang diberi vaksin sudah memiliki kekebalan.

"Vaksinnya tidak 1 jenis saja dan berharap kita bisa produksi sendiri vaksin tersebut dari Biofarma," imbuhnya.

Negara-negara ASEAN Kompak Berantas DBD

Masalah DBD dihadapi oleh seluruh negara ASEAN, bahkan negara Singapura yang terkenal dengan kebersihannya sekalipun masih memiliki masalah terhadap penyakit demam berdarah.

Untuk itu para anggota ASEAN berkumpul dalam konferensi ini untuk saling berkomitmen dalam mengendalikan dan mengatasi penyakit ini. Kpnferensi ini diikuti oleh 150 peserta yang terdiri dari perwakilan 10 negara anggota ASEAN, pakar kesehatan internasional, akademisi, praktisi lapangan baik dari rumah sakit atau Puskesmas.

Dengue atau lebih dikenal dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi keprihatinan para pejabat kesehatan di se-ASEAN karena jumlah kasusnya masih tinggi. Untuk itu ditetapkan tanggal 15 Juni sebagai ASEAN Dengue Day yang dimaksudkan sebagai kampanye pengendalian dan pencegahan DBD di tingkat regional ASEAN.

Menkes mengungkapkan dalam pertemuan kali ini memiliki beberapa tujuan yaitu:

Masing-masing negara berkomitmen dalam usaha mengendalikan DBD, kalau bisa sampai mengeliminasi atau mengeradikasi penyakit ini. Berkomitmen untuk membuat jejaring yang tidak hanya oleh pemerintah, tapi juga melibatkan peneliti, LSM dan komunitas lainnya hingga terbentuk networking dalam pengendalian penyakit ini. Semua negara telah sepakat untuk saling bertukar pengalaman dalam mengendalikan DBD. Melakukan upaya bersama baik dalam hal penelitian atau pilot project.  

ver/ir)


-

0 komentar:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | fantastic sams coupons