-
-

Tuesday, September 27, 2011

Humor Bisa Tenangkan Pasien Demensia


foto: ThinkstockJakarta, Humor mampu mengurangi perilaku gelisah pada pasien demensia (pikun) sebanyak 20 persen. Perilaku gelisah tersebut seperti berkeliaran, berteriak dan mengulang-ulang perilaku. Sayangnya perawat pasien demensia sering melupakan pengaruh humor ini untuk terapi pasiennya.

Banyak sudah penelitian yang menunjukkan pengaruh positif tertawa bagi kesehatan. Bukti-bukti ilmiah telah menunjukkan tertawa dapat menurunkan tekanan darah dan meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari New South Wales di Australia menunjukkan bahwa humor mampu mengurangi perilaku gelisah pada pasien demensia sebanyak 20 persen.

Sebanyak 400 penghuni rumah jompo yang sebagian besar mengalami demensia berpartisipasi dalam penelitian ini. Para peneliti melihat efek humor yang diberikan terapis humor bernama Jean-Paul Bell pada 200 orang penghuni rumah jompo.

Sang terapis humor ini kadang berperan sebagai dokter badut di rumah sakit anak. Tapi untuk percobaan kali ini, ia berpakaian seperti petugas lift biasa.

Mr. Bell tersenyum-senyum sambil mengobrol dengan sosok imajiner menggunakan seperangkat telepon tua dan melambaikan tongkat ajaib sambil bertanya kepada para penghuni tentang apa yang mereka inginkan.

Di beberapa panti jompo, terapis humor kadang berperan sebagai badut tua pada lelucon, cerita, musik dan sulap untuk membantu merangsang memori dan fungsi kognitif.

Contohnya, seorang badut tua bertanya seseorang pasien demensia untuk menceritakan atau memberikan beberapa saran mengenai kehidupan. Badut juga dapat bertindak bodoh atau dengan sengaja memberikan instruksi salah sehingga para penghuni panti jompo dapat memberitahu kepada badut apa yang harus dia lakukan.

"Ada bukti yang menunjukkan bahwa penderita demensia masih bisa memahami humor dan jumlah yang sama seperti orang normal, tetapi mereka menemukan kelucuan yang berbeda," kata peneliti Dr Lee-Fay Low dari University of New South Wales seperti dikutip dari Huffington Post, Kamis (22/9/2011).

Menurutnya, beberapa panti jompo sangat fokus pada tugas-tugas seperti memandikan, memberi makan, dan membersihkan. Dan terkadang lupa akan kebutuhan emosional para penghuninya.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di jurnal BMC Complementary and Alternative Medicine tahun lalu, seorang peneliti dari Jepang menyelidiki mengapa tertawa dapat digunakan sebagai terapi alternatif bagi penderita demensia.

Ia menulis bahwa tertawa dianggap bermanfaat bagi kesehatan manusia untuk waktu yang lama. Beberapa manfaat terawa antara lain meningkatkan respons kekebalan tubuh, fungsi hormon dan toleransi terhadap sakit.

Namun, peneliti mencatat bahwa humor harus dikelola dan disajikan dengan tepat, karena pasien demensia bisa menjadi marah jika lelucon itu dianggap menghina.


ir/ir) detikhealth.com

-

0 komentar:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | fantastic sams coupons